Dopamin, Dobutamin dan norepinefrin : Obat Jantung

0
709

Dopamin, dobutamin, dan norepinefrin adalah salah satu obat yang digunakan sebagai obat inotropik jantung, sebagai penanganan pasien syok, terutama akibat kontraktilitas jantung yang menurun. Masing-masing obat tersebut memiliki fungsi spesifik. Berikut pembahasannya obat-obatan tersebut, simak di doktermuslim.

DOBUTAMIN

Dobutamin akan menstimulasi reseptor beta-adrenergik tetapi tidak berefek pada dlta dan alfa-mediated reseptor. Oleh karena itu dobutain akan meningkatkan kontraktilitas jantung dan menurunkan denyut vaskuler. Kombinasi efek ini membuat dobutamin menjadi zat sempurna untuk syok kardiogenik. Yang membatasi kerja dobutamin adalah efek vasodilator intrinsiknya dimana hal ini menyebabkan hipotensi sistemik dan efek kronotropiknya yang lumayan.

DOPAMIN

Dopamin adalah awal mula pelopor norepinefrin dan epinefrin. Pada dosis rendah, dopamin akan mempengaruhi vaskuler reseptor delta-1 dopamin (ginjal dan mesenterika) mengarah ke vasodilatasi. Pada dosis tinggi, dopamin akan mempengaruhi Beta-1 adrenergic reseptor yang berhubungan dengan inotropik positif dan efek kronotropik.

Pada dosis yang jauh lebih tinggi dopamin akan mengajak alfa-1 adenergik reseptor yang aan bergabung dengan efek vasokinstriksi. Dopamin sering dipilih sebagai agen utama suok karena potensi efeknya yang bermanfaat dalam sirkulasi ginjal dan Cardiak output. Tetapi, efek kronotropik dan prodisritmik yang diperkurakan akan berkurang pada pasien dengan Myocardia iskemik.

NOREPINEFRIN

Norepinefrin adalah agen katekolamin yang memiliki aktifitas alfa dan beta adrenergik. Efek vasokontriksi dan inotropiknya kuat menjadikan norepinefrin sebagai pilihan utama di ICU untuk mengatasi ketidakstabilan hemodinamik pada pasienyang membutuhkan bantuan untuk denyut vaskuler dan kontraktilitas myocardial. Contoh tipikal adalah pasien syok septik dengan derajat preeksistent atau disfungsi myocardial akut. Dibandingkan dengan epinefrin, norepinefrin tidak memiliki aktifitas beta-2.

EPINEFRIN

Epinefrin adalah golongan katekolamin kuat yang menstimulasi reseptor alfa, beta-1 dan beta -2 adrenergik. Epinefrin menjadi pilihan utama resusitasi kardiopulmonal. Efeknya terhadap tekanan darah tergantung pada efek inotropik dan kronotropik positif serta dasar vasokontriksi vaskuler, terutama kulit, mukosa dan ginjal. Efek beta 2 epinefrin sangat kuat memicu bronkodilasi dan menghambat degranulasi sel mast. Sehingga membuat epinefrin menjadi obat pilihan utama syok anafilaksis. Pada orang dewasa, pemberian obat ini IV 0,1-0,5 mg (o,1-0,5 dilarutkan dalam 1:1000) merupakan dosis awal pada hipotensi berat, diikuti infus kontinyu 1-4 mikro gram per menit.

Baca Juga:  Paracetamol

DOPEXAMIN

Dopexamin merupakan turunan dsintesis dopamin dengan delta dan beta-2 yang lebih baik dibandingkan aktifitas beta-1 serta tidak terdapat aktifitas alfa, sehingga mengurangi tipikal efek kronotropik dan efek prodisritmik dopamin. Dopexamin tidak diizinkan penggunaan klinis di USA dan enggunaannya di eropapun di hindari kareha harganya sangat mahal.

AMRINONE dan MILRINONE

Amrinone dan milrinone adalah inhibitor phosphodiesterase-III (PDE-III) menggunakan efek hemodinamik melewati inhibisi PDE-III di mana hal ini akan meningkatkan jumlah siklik guanosin monofosfat (GMP) dalam endothelium, sehingga meningkatkan ontraktilitas myocardial dan relaksasi diastolik serta menurunkan denyut vaskuler.

Efek ini bermanfaat dalam mengatasi gagal jantung sistolik. Infus intravena dimulai dengan dosis bolus diikuti dengan infus. Amrinone telah banyak dingantikan oleh milrinone karena durasi kerja lebih pendek dan titratabilitasnya lebih mudah. Milrinone diberikan dalam bolus 50 mikrogram/kg diikuti infus kontinyu 60 menit dibandingkan dengan 2-3 jam amrinone. Hipotensi dan takikardi adalah efek samping utama yang membatasi kerja milrinone.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here