Tes-tes Pemeriksaan Penunjang Mata

6
5777

TES-TES PENUNJANG MATA
Dalam dunia kedokteran, dikenalkan berbagai macam tes pemeriksaan penunjang mata. Pemeriksaan ini  coba saya list kan, dan rangkumkan. Sebagai berikut ini:

  1. Tes Schirmer adalah tes untuk memeriksa produksi air mata. Tes ini dilakukan dengan cara menyisipkan kertas saring di fornix inferior mata, kemudian ditunggu selama 5 menit. Pada kondisi normal, glandula lacrimalis dapat memproduksi air mata 10 mm dari pangkal ketrtas saring basah oleh air mata.
  2. Tes Regurgitasi adalah tes yang dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya patensi saccus lacrimalis, dimana dilakukan dengan cara menekan saccus lacrimalis dan dilihat ada tidaknya sekret yang keluar dari saccus tersebut. Tes ini bernilai positif bila terdapat secret yang keluar. Tes ini positif pada Dacriocystitis.
  3. Tes Anel adalah tes yang dilakukan untuk melihat patensi ductus lakrimalis. Tes ini dilakukan dengan cara memasukkan jarum tumpul ke punctum lakrimalis ke dalam saccus lakrimalis, kemudian disemprotkan larutan garam fisiologis (NaCl). Tes anel bernilai positif bila ada rasa asin di tenggorokan, dan tes anel bernilai negatif bila tidak ada asin. Tes anel negatif berarti terdapat patensi pada duktus nasolakrimalis.
  4. Tes Amsler Grid adalah tes untuk mengetahui fungsi penglihatan sentral makula. Pada tes ini juga dapat dilakukan untuk melihat adanya skotoma pada lapang pandang dan dokumentasi metamorfosa.
  5. Tes Plasido adalah tes untuk menilai rata tidaknya kurvatura permukaan kornea. Tes ini menggunakan piringan dengan lingkaran berwarna hitam putiih.
  6. Tes Flouresin adalah tes untuk melihat adanya defek pada sel epitel kornea. Pada tes ini dilakukan dengan kertas flouresin dibasahi terlebih dahulu dengan NaCl kemudian diletakkan pada saccus konjunctiva inferior, setelah terlebih dahulu pasien diberi anestesi lokal. Pasien diminta menutup matanya selama 20 detik, kemudian kertas diangkat. Defek kornea akan terlihat berwarna hijau dan disebut sebgai uji flouresin positif.
  7. Tes Seidel adalah tes yang dilakukan untuk mengetahui adanya perforasi kornea. Tes ini dilakukan dengan cara setelah flouresin menempel pada kornea, dilakukan sedikit penekanan pada korna. Apabila terdapat lubang di kornea, maka floresin akan tercecer oleh aquos humor dan keluar sehingga tampak sebagai suatu aliran.
  8. Tes shadow adalah tes yang digunakan untuk mengetahui stadium katara. Prinsipnya, apabila lensa belum keruh seluruhnya, ketika disinari menggunakan senter dari depan bola mata dengan sudut 45oC, sinar akan dipantulkan dan mengenai iris, sehingga terbentuk bayangan iris pada pupil yang terlihat seperti bulan sabit. Shadow tes positif bila didapatkan pupil terlihat seperti bulan sabit.
  9. Tes Hirschberg adalah tes skrining yang digunakan untuk melihat misalignment dari ocular (strabismus). Dilakukan dengan cara mata disinari dan diamati pantulan kornea. Pada saat melakukan tes, refleks cahaya kedua mata dibandingkan. Pada orang normal, refleks tersebut akan simetris, berbeda pada orang strabismus.
  10. Tes cover-uncover adalah tes yang digunakan untuk melihat deviasi dari strabismus. Seperti yang telah kita ketahui bersama, bahwa deviasi okular, ada 2, yakni tropia dan phoria. Tropia adalah misalignment dua mata ketika pasien melihat dengan kedua mata yang tidak ditutupi. Phoria adalah hanya muncul bila penglihatan binocular rusak, dan dua mata tidak lagi melihat obyek yang sama. Phoria disebut juga deviasi laten.
  11. Tes ophthalmoscopy direct adalah tes yang digunakan untuk mengamati retina dengan sinar konvergen yang dipantulkan dalam pupil pasien. Sinar muncul dari setiap titik di fundus pasien mencapai retina melalui lubang di ophthalmoscop. Dalam ophtalmoscopy langsung, terlihat obyek tegak, virtual, dan diperbesar 15 kali dari kondisi emetrop.
  12. Tes ophthalmoscopy indirect adalah tes ini dilakukan dengan menempatkan lensa cembung di depan mata pasien, sehingga sinar muncul dari daerah fundus membuat bayangan nyata, dan terbalik antara lensa dan mata pengamat. Bayangan yang dibentuk di ophthalmoscopy indirect adalah nyata, terbalik dan diperbesar. Ophthalmoscopy indirect sangat penting dalam manajemen retinal detachment dan lesi di retina perifer.
  13. Tes perimetri adalah tes untuk menilai lapang pandang. Tes ini dapat melihat kelainan penglihatan sentral dan perifer yang disebabkan berbagai penyakit mata seperti glaucoma, stroke, tumor otak, dan defisit neurologis. Alat yang digunakan adalah perimeter goldmann.
  14. Tes tonometri adalah tes untuk menilai tekanan intraokular. Pengukuran Tonometri indirect atau tidak langsung terdiri atas indentasi dan aplanasi dimana pengukurannya berdasarkan besarnya indentasi atau deformitas terhadap bola mata. Tonometer Schiftz merupakan contoh dari tonometri indentasi. Kedua, Tonometri anaplasi dimana tonometri ini didasarkan pada besarnya tekanan intra okular berbanding lurus dengan jumlah energi yang dibutuhkan untuk meratakan (membuat datar) permukaan sferis, dan dibagi area yang anaplasi (area yang tidak terdatarkan) atau yang kita kenal dengan hukum Imbert-Fick. Banyak sekali jenis tonometri aplanasi diantaranya tonometer aplanasi Goldmann, Draeger, Tono-pen,Perkins, pneumatik, noncontact, dan lain-lain.
  15. Tes goniometri adalah tes untuk menilai sudut iridokornealis.
  16. Tes Ishihara adalah tes buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini menggunakan kartu yang tercetak dan tergambar pola titik-titik berbagai ukuran dan kombinasi warna berbentuk lingkaran. Titik dan kombinasi warna tersebut disusun sistematis agar penglihatan orang buta warna tidak dapat membedakan warna seperti orang normal (pseudo-isochromaticism).
Baca Juga:  Dakriosistitis : Gejala, Penyebab hingga Tatalaksana

PROSEDUR
Selain tes-tes yang kami sebutkan diatas, terdapat juga prosedur-prosedur yang biasa dilakukan dalam ilmu penyakit mata, diantaranya:

  1. Enucleasi adalah tindakan remove mata dengan meninggalkan otot mata dan menyisakan isi dari bola mata tetap intak. Indikasi prosedur ini diantaranya tumor mata, mata lelah, trauma berat dan kebutaan, dan nyeri mata.
  2. Eksenterasi adalah prosedur operasi dimana semua isi dari orbita bersama-sama dengan periorbita dikeluarkan melalui sayatan yang dibuat sepanjang tepi orbita. Indikasi prosedur ini adalah tumor ganas di orbita atau yang metastase ke bola mata.
  3. Eviscerasi adalah tindakan removal isi mata, dengan meninggalkan dinding sklera dan otot ekstraocular dibiarkan utuh. Indikasi tindakan ini adalah panoftalmitis, perdarahan koroid, perdarahan staphyloma anterior.

PERBEDAAN OPHTHALMOSCOPY DIRECT DAN INDIRECT

No Pembeda Direct Ophtalmoscopy Indirect Ophthalmoscopy
1 Lensa kondensasi Tidak perlu Perlu
2 Gambar Maya, tegak Nyata, terbalik
3 Pembesaran 15 kali pembesaran 4-5 kali pembesaran
4 Illuminasi Tidak terang Terang
5 Area lapang pandang 2 disk dioptri 8 disk dioptri
6 Stereopsis Tidak ada Ada
7 Melihat fundus Sedikit diluar equator Di atas ora serata
8 Pemeriksaan dengan hazy media Tidak bisa Bisa

Demikian sedikit rangkuman terkait tes-tes khusus pada pemeriksaan penunjang mata, dan sedikit pembahasan prosedur di mata. Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Silahkan komentar apabila mempunyai referensi yang lebih, dan apabila terdapat salah dan kurang faham silahkan tulis dikomentar. Semoga bermanfaat.

6 KOMENTAR

    • Alaykumus salam wr wb.
      Sebelumnya terimakasi telah membaca dan berkunjung ke website kami.
      Jadi untuk melakukan penelitan menggunakan tes schirmer, maka tempat terbaik adalah di klinik spesialis mata atau rumah sakit yang mempunyai poliklinik mata. Mengapa demikian, pertama dari ketersediaan alat memadai dan kita tinggal minta ijin menggunakan, kedua sudah ada dokter spesialis mata yang siap kita mintai konsultasi setiap saat sekaligus menjadi supervisi kita.
      Sebelum itu maka tentukan dulu, penelitian nya arahnya ke arah mana, apa yang mau diteliti, termasuk kualitatif atau kuantitatif. termasuk etical clearence, Kemudian jika sudah siap, biasanya jika ingin mengambil data dirumah sakit, maka menghubungi rumahsakit bagian pendidikan research, serta menghubungi dokter spesialis mata selaku yang mempunyai kewenangan langsung. Minta ijin dan memohon bimbingan beliau, biasanya akan diberikan ijin tentu saja dengan etika dan sopan santun. Setelah itu untuk teknis penggunaan, maka seringnya diajari oleh dokter spesialis mata tersebut, atau dokter residen mata, atau dokter muda bahkan perawat yang sehari-hari membantu melakukan pemeriksaan kepada pasien. Apabila dibutuhkan kontak saya untuk bertanya lebih lanjut, insyaAllah boleh.
      Demikian, semoga menjawab pertanyaannya.
      Wassalamu alaikum.

      dijawab oleh : dr. M. Wiwid Santiko

  1. Assalamualaikum wr wb, terima kasih banyak ya dokter atas informasinya, sangat membantu sekali 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here