Tipe-tipe Reaksi Hipersensitivitas

2
7430

Definisi Reaksi Hipersensitifitas

Reaksi Hipersensitifitas adalah reaksi imunitas yang berlebihan yang tidak diinginkan karena adanya ketidakseimbangan antara mekanisme efektor dari respon imun dan mekanisme kontrol yang normalnya bekerja membatasi respon dan berpotensi merusak jaringan tubuh.

Pajanan atau sensitisasi terjadi apabila sebelumnya telah terpajan oleh suatu antigen. Sering sekali pajanan berulang dari antigen yang sama dapat menimbulkan respon patologis yang dikenal dengan hipersensitivitas. perkembangan hipersensitivitas dikaitkan dengan alergi, autoimun dan herediter (pewarisan genetika tertentu).


Jenis-jenis Reaksi Hipersensitivitas

1. Reaksi tipe I (Reaksi cepat)

Reaksi yang muncul segera setelah alergen masuk dalam tubuh. Disebut juga reaksi alergi, reaksi anafilaksis dan immediate hypersensitivity.

Patogenesisnya, alergen yang masuk melalui lapisan mukosa ditangkap oleh sel B, kemudian terjadi aktivasi sel T helper 2 dan terjadi pertukaran kelas. Kemudian sel B memproduksi IgE. IgE terikat pada FcRI pada sel mast.

Apabila terjadi pajanan ulang terhadap alergen, terjadi aktivasi sel mast dan dikeluarkannya mediator seperti sitokinin, vaso aktif amin dan mediator lipid. Sitokin akan membuat reaksi fase lambat 2-24 jam setelah pajanan ulang terhadap alergen, sedangkan vasoaktif amin dan mediator lipid akan bereaksi cepat, dalam beberapa menit setelah panajan ulang.

Ada 3 fase :

Pertama, Fase sensitisasi : yakni alergen yang masuk ke tubuh akan segera di tangkap oleh fagosit. Setelah itu, antigen tersebut akan dipreoses dan dipresentasikan pada sel T helper 2. Responnya, selT helper 2, melepas sitokin yang menstimulasi sel B memproduksi IgE. IgE nantinya diikat oleh sel-sel yang memiliki reseptor IgE spesifik misalnya sel mast, basofil dan eosinofil.

Kedua, Fase Aktifasi : yakni saat terpajan alergen, IgE spesifik di permukaan sel mast akan langsung bereaksi terhadap alergen tersebut. Kejadian terikatnya alergen IgE tersebut memacu degranulasi sel mast sehingga keluarlah berbagai mediator dari granula sel, seperti histamin dan mediator lipid.

Baca Juga:  Kandidosis Vaginalis (Gelaja, Penyebab dan Tatalaksana)

Ketiga, Fase Efektor : setelah kontak dengan alergen, akan terjadi metabolisme asam aracidonat. Prostaglandin dan leukotrien dikeluarkan. Inilah fase lambat dari reaksi hipersensitivias tipe 1.

Contoh reaksi hipersensitivias tipe 1 adalah asma bronkhial, rhinitis alergi, urtikaria, dan dermatitis atopik.


2. Reaksi tipe II (Reaksi Sitotoksik)

Merupakan reaksi sitotoksik, sitolitik dan hipersensitivitas yang di mediasi oleh antibodi. Rekasi ini akan membentuk antibodi IgM dan IgG akibat respon antigen. Ikatan antigen antibodi mengaktivasi komplemen dan terjadi aktivasi neutrofil dan makrofag.

Fagosit dan opsonisasi : sel dikenali oleh reseptor Fc yang sebelumnya diopsonisasi oleh antibodi IgG pada fagosit spesifik. Saat antibodi IgM dan IgG di permukaan sel, sistem komplemen akan teraktivasi menghasilkan produk, terutama C3b dan C4b. Kedua protein itu terletak pada permukaan sel dan dikenali oleh fagosit yang mengekspresikan reseptor untuk keduanya. Terjadilah fagositosis pada sel yang diopsonisasi tersebut.

Selain itu komplemen teraktivasi memicu pembentukan membran attacck compleks yang membuat lubang pada membran bilayer lipid. Sehingga membran terganggud dan terjadi lisis osmosis sel.

Sel-sel yang dilingkupi IgG konsentrasi rendah akan dimatikan oleh beragam sel efektor. ADCC dapat diperantarai oleh monosit, neutrofil, eosinofil dan sel Natural Killer (NK).

Reaksi Inflamasi : antibodi yang terdiposit pada jaringan mengaktivasi komplemen hingga terbentuk berbagai produk termasuk agen kemotaktik terutama C5a yang menarik leukosit PMN dan MN serta anafilatoksin. Leukositpun teraktivasi yang akan memicu produksi substansi lain yang menyebabkan kerusakan jaringan. Disisi lain, di keluarkannya banyak proinflamantorik, vasodilator, dan kemotaktik. Rangakaian kejadian inilah yang menimbulkan inflamasi termediasi antibodi.

Reaksi disfungsi seluler : pada sebagian kasus ada antibodi yang melawan reseptor pada permukaan sel. Akibatnya terjadilah gangguan dan disregulasi fungsi sel tanpa disertai cedera maupun inflamasi sel.

Baca Juga:  Alergi Kucing : Gejala, Mekanisme hingga Tatalaksana

Contoh reaksi hipersensitivitas tipe II adalah Anemia Hemolitik AIHA, kerusakan jaringan pada penyakit autoimun, seperti mistenia gravis dan tirotoksikosis, dan sindrom goodpasture dan rusahnya seldarah merah karena reaksi tranfusi.


3. Reaksi tipe III (Reaksi Kompleks Imun)

Reaksi tipe III disebut juga kompleks imun yakni terjadi kompleks antigen-antibodi IgM dan IgG dalam jaringan yang memicu komplemen yang akan dikeluarkannya berbagai mediator seperti Faktor Kemotaktis Makrofag.

Juga akan menstimulasi basofil dan trombosit yang mengakibatkan pelepasan mediator seperti histamin. Akhirnya terjadi permeabilitas vaskuler. Antigen berasal dari bakteri patogen, virus, jamur, bahan inhalasi dan lain sebagainya.

Contoh reaksi tipe III adalah : SLE (sistematik Lupus eritematosus, glomerulonefritis, serum sickness dan reaksi arthus.


4. Reaksi tipe IV (Reaksi tipe Lambat)

Reaksi ini disebut juga reaksi hipersensitivitas tipe lambat, atau sel T mediated hipersensitivitas. Reaksi ini timbul lebih dari 24 jam setelah pajanan. Reaksi ini melalui delayed hipersensitivias dan sel T mediated citolisis.

Dalam Delayed tipe, akan melalui sel CD4, dimana sel ini melepaskan sitokunyang mengaktivasi makrofag sehingga timbul inflamasi. Kerusakan jaringan akibat produk makrofag yang diaktifkan seperti enzim hidrolitik, oksigen reaktif intermediet, dan oksida urat. Contohya : dermatitis kontak, granuloma, reaksi tuberkulin.

Tipe sel T mediated sitolisis, melalui sel CD8 yang akan mendestruksi sel sasaran. Disini akan terjadi inflamasi yang diperantarai sitokin. Contohnya : dermatitis kontak, skleross multipel, diabetes melitus tipe I, artritis reumathoid, penyakit usus inflamatorik dan tuberkulosis.


Referensi

Abbas AK. Lichman, AH. Pillai S. 2007. Cellular and Molecular Immunology. 6 th edition. Philadelphia : elsevier Saunders.

Barata widjaja, KG. Rengganis. I. 2012. Imunologi Dasar edisi 10. Jakarta : Penerbit FKUI

Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC, 2010. Robbin and Cotran Pathologic Basic of Disease. 8th edition. Philadelphia : Elsevier Saunders.

Baca Juga:  Tatalaksana Pre-Operatif dan post-Operatif Gastroschisis

Tim Penulis, 2014. Kapita Selekta Kedokteran Essentials Medicine, edisi IV, jilid II. Jakarta : Media Aesculapius

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here