Neuritis Vestibularis : Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

0
4077

Neuritis vestibularis adalah kelainan defisit satu sisi (unilateral) tanpa ada gangguan pendengaran dan gejala gangguan fungsi otak dan hanya terjadi pada organ vestibuler tepi (perifer).

Vertigo berat akibat otak kehilangan suplai labirin mengakibatkan, nausea, muntah, cenderung jatuh ke sisi telinga yang mengalami deaferentasi, sulit sekali berjalan dan berdiri disertai dengan nistagmus horizontal ke sisi sehat.


Definisi

Nama lain dari neuritis vestibularis adalah neuronitis, labirinitis, neurolabirinitis viral, vestibulopati unilateral perifer akut, vestibular neurolabirinitis, neuropativestibularitis, vertigo episodik, dan vertigo epidemik.

Neuritis vestibularis berkaitan dengan musim, didahului dengan infeksi saluran nafas. Gejala dapat berlangsung lama, dan kadang membuat pasien menjadi takut untuk bergerak. Insidensi sebesar 3,5 per 100.000 populasi dan merupakan kelainan vestibularis perifer terbanyak kedua setelah BPPV (Benign Paroxismal Positional Vertigo).


Etiologi

Etiologi neuritis vestibularis belum dapat diketahui secara pasti. Diduga karena infeksi virus. Sering didahului oleh infeksi saluran nafas, dan terjadi musiman. Berdasarkan penelitian, didapatkan terdapat gambaran inflamasi degenerasi pada n. Vestibularis, dimana hal ini menunjukkan adanya transkripsi laten DNA dan RNA virus herpes simpleks pada ganglia vestibularis.

Etiologi kedua paling banyak kemungkinannya adalah iskemia. Suplai darah untuk telinga dalam diberikan oleh arteri auditorius interna dan arteri cabang ke dalam arteri koklearis komunis adan arteri vestibularis anterior yang menyuplai kanalis semisirkularis dan utrikulus.

Iskemia permanen pada labirin atau nervus vestibularis dapat menyebabkan neuritis vestibularis. Iskemia transien pada kawasan vaskular ini akan menyebabkan episode singkat vertigo rotatorik yang lamanya beberapa menit, dan di antara serangan tidak ada tanda-tanda vestibular abnornal. Gejala tersebut bisa didahului infark yang lebih luas pada kawasan AICA (anterior inferior cerebelar artery).

Baca Juga:  Infeksi Virus Zika

Patofisiologi

Perubahan gerakan dan posisi kepala akan mengaktifkan salah satu labirin dan menghambat sisi lainnya. Bila input dari satu sisi berhenti,  ini akibat vestibularis maka aktivitas neuronal  nucleus vestibularis ipsilateral akan berhenti sementara sisi kontralateral masih aktif.

Rangsangan asimetris ini sesuai dengan rotasi kontinyu kepala dan kemiringan kepala menuju sisi sehat. Sensasi vertigo pada nistagmus spontan diterangkan dengan firing rate spontan yang tinggi dari neuron vestibular primer.

Neuritis vestibularis terjadi kerusakan selektif pada bagian superior nervus vestibularis yang mensyarafi kanalis semisirkularis horizontal dan anterior, termasuk utrikulus dan sebagian sakulus. Letak lesi dapat dimana saja, mulai dari vestibular end organ sampai ke serabut-serabut terminal dari neuron vestibular primer di batang otak.

Adanya nistagmus spontan horizontal, dan adanya gangguan respon terhadap stimulasi kaloris menunjukkan bahwa setidak-tidaknya aktifitas afferent dari kanalis semisirkularis horizontal terganggu.

Terdapat bukti bahwa beberapa bagian dari vestibular labirin tetap intak meskipun pada kasus dengan paresis yang komplet. Kejadian neuritis vestibularis dan BPPV secara stimulan, memberi kesan bahwa kanalis semisirkularis posterior dan nervus vestibularis inferior tidak terganggu.

Tes visual subyektif yang normal atau hampir normal pada pasien neuritis vestibularis memberi kesan bahwa fungsi otolitik juga masih baik.


Manifestasi Klinis

Manifestsi klinis dari neuritis vestibularis, pasien biasanya datang dengan keluhan vertigo akut dan parah, disertai nausea, muntah dan ketidakseimbangan. Gejala vertigo muncul mendadak sering terjadi waktu malam dan saat bangun tidur pagi, biasanya berlangsung sampai 2 minggu. Dengan gejala berat ii pasien harus berbaring dengan mata tertutup serta posisi miring dengan sisi telinga yang terganggu dibawah.

Terdapat karakter sindrom klinis neuritis vestibularis, diantaranya:

  1. Vertigo rotatorik dan nausea spontan berat, onset dalam beberapa jam, menetap lebih dari 24 jam. Hal ini berbeda dengan penyakit meniere yang biasanya gejala berlangsung beberapa jam saja.
  2. Nistagmus horizontal rotatorik spontan dengan arah telinga yang sehat, dengan ilusi gerakan disekitarnya.
  3. Gangguan keseimbangan saat berdiri atau berjalan dengan kecenderungan untuk jatuh ke arah sisi telinga yang kena.
  4. Defisit fungsi kanalis horizontal unilateral yang dapat dideteksi dengan tes VOR dan irigasi kaloris
  5. Pemeriksaan otoskopi an pendengaran normal
  6. Tidak terdapat defisit neurologis.
Baca Juga:  Kesemutan Kaki dan Tangan : Gejala hingga Pengobatan

Diagnosis

Cara mendiagnosis neuritis vestibularis adalah dengan diagnosis klinis. Apabila pasien sudah sesuai klinisnya dengan karateristik neuritis vestibularis, pemeriksaan penunjang tidak diperlukan. Pemeriksaan yang masih dibutuhkan untuk menunjukkan gangguan fungsi vestibular unilateral dan monitor perbaikan adalah elektronistagmografi dan tes kalori.

Untuk menunjukkan adanya gangguan pendengaran sebagai bagian klinis dari diagnosis banding seperti penyakit meniere, fistula perilimfe, atau infark labirin maka dapat dilakukan pemeriksaan audiometri. MRI dapat diindikasikan pada kondisi klinis yang melibatkan batang otak dan serebelum, atau dengan faktor risiko vaskular.

Tes rutin diperlukan untuk menunjukkan masih adanya gejala sisa gangguan vestibular perifer antara lain kaca frenzel, oftalmoskopi, head-shaking, head thrust, dan tandem romberg.


Tatalaksana

Umumnya pasien neuritis vestibularis terjadi perbaikan gejala spontan. Pengobatan neuritis vestibularis adalah pengobatan simtomatik, yang bertujuan untuk :

  1. Memperbaiki gejala vegetatif yang kuat selama fase awal
  2. Memfasilitasi kompensasi sentral sesegera mungkin dengan cara mobilisasi awal dan memulai lagi aktifitas kehidupan sehari-hari yang normal.
  3. Pemberian obat yang bersifat supresi vestibular di hindari.

A. Terapi simtomatik

Pada fase akut 1-3 hari pertama, berikan tablet dimenhidrinat 100 mg atau obat antivertigo lainnya dapat diberikan untuk menekan mual dan muntah.
Obat haru dihentikan pemberihannya setelah keluhan berkurang dan pasien membutuhkan waktu berikutnya untuk kompensasi sentral.

B. Terapi Causatif

Berikan Kortikosteroid (metilpredisolon), diberikan 3 hari pertama onset gejala dan berlanjut hingga 3 minggu.
Awalnya 100 mg/hari, selanjutnya diturunkan 20 mg tiap 3 hari.
Preparat lain dapat diberikan prednison tablet 2×20 mg dapat diberikan 10-14 hari.
Antiviral dapat diberikan (valacyclovir), tetapi tidak memberi perbedaan bermakna baik diberikan sendiri maupun dikombinasikan dengan kortikosteroid.

C. Terapi Modifikasi Gaya Hidup

Dilakukan latihan fisik yang dibantu petugas.
Awalnya dilakukan stabilisasi statis, selanjutnya latihan dinamis untuk mengontrol keseimbangan dan stabilisasi gerakan mata selama gerakan mata-kepala-badan
Baca Juga:  APGAR Score (Pemeriksaan dan Intepretasi)

Referensi

Fife, T. 2009, Benign Paroxyxmal Positional Vertigo”. Semin Neurol. 29(05):500-8

Joesof, AA dan Kusumastuti K, 2002. Neuro-otologi Klinis: Vertigo. Surayaba : Airlangga University Press

Kelompok studi vertigo PERDOSSI, 2012. Pedoman Tatalaksana Vertigo. Jakarta: PERDOSSI

Purnamasari, PP. Diagnosis dan tatalaksana BPPV. Bagian Ilmu Penyakit Syaraf Fakultas Kedokteran Universitgas Udayana.

Sri Sutarni, Rudy Ghazali, Abdul Ghofir,2015. Bunga Rampai Vertigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here