Blefaritis – Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

0
901

Blefaritis adalah salah satu peradangan pada kelopak mata. Blefaritis dapat dibagi secara anatomis menjadi blefaritis anterior dan posterior. Blefaritis anterior berarti terjadi peradangan pada sekitar kulit, alis, bulu mata, dan folikel.

Blefaritis posterior peradangan yang meliputi kelenjar meibom, dan tarsal. Blefaritis anterior dapat dibagi menjadi staphylococcal dan suborrhiec. Blefaritis sering dikaitkan dengan penyakit sistemik, seperti rosacea, atopy, dan dermatitis seboroik yang terjadi di sekitar mata. Sering juga berhubungan dengan gejala dry eye, kalazion, trichiasis, konjunctivitis dan keratitis.


Patofisiologi

Patofisiologi dari blefaritis adalah kolonisasi bakteri di kelopak mata. Adanya invasi mikroba secara langsung ke jaringan, penurunan imun sistem, dan kerusakan akibat adanya toksin bakteri, produksi sampah dan enzim. Kolonisasi ditepi kelopak ini meningkatkan terjadinya dermatitis seboroik, dan disfungsi dari kelenjar meibomian.


Gejala dan Manifestasi Klinis

Pada anamnesis dapat gejala irititasi, gatal, eritem/ kemerahan pada mata dan kelopak mata. Gejala lain yang dapat meliputi adalah :

rasa terbakar
berair
terasa ada yang mengganjal
terdapat krusta
kemerahan pada mata dan kelopak mata
photophobia
nyeri
penurunan penglihatan

Pada pemeriksaan fisik didapatkan kemerahan, dan terbentuknya vesikel. Dermatitis seboroik biasanya berkaitan dengan gejala gatal di kepala, dan berminyak. Rosacea berkaitan dengan kemerahan dan pembengkakan pada hidung, wajah kemerahan, distensi vasa wajah, pustul, kulit berminyak, dan iritasi mata.

Pemeriksaan dengan slit lamp didapatkan madarosis, poliosis, trichiasis, ulkus pada tepi mata, teangiectasis, tylosis. Pada konjuntiva terdapat injeksi papiler. Pada kornea terdapat infiltrat marginal, epithelial erosion, inflamasi limbal, limbitis, ectasia corneal, pannus dan pembentukan polictenule.

Pada blefaritis posterior, didapatkan disfungsi dari kelenjar meibomian. Sekresi terhambat dan membuat seperti gel. Dapat berlanjut menjadi hordeolum dan kalazion.

Baca Juga:  Gagal Ginjal Kronis pada Anak : Gejala, Pemeriksaan dan Tatalaksana

Perbedaan gejala blefaritis anterior dan posterior

Blefaritis anterior

seboroik/ squamosa

Penumpukan sisik putih pada bulu mata dengan dasar hiperemis tanpa ulkus
Blefaritis anterior

Ulceratif/staphylococcal

Krusta kekuningan pada dasar bulu mata, bila diusap meninggalkan keropeng atau ulkus yang mudah berdarah
Blefaritis Posterior Muara kelenjar meibom tampak prominen dengan sekresi kental keputihan

Etiologi (Penyebab)

Blefaritis akut disebabkan oleh alergi, toksisitas obat, dan reaksi kimia, sedangkan blefaritis kronis disebabkan oleh chemical fumes, rokok, dan iritan lainnya. Beberapa penyebab spesifik dari blefaritis adalah :

Rosacea
Herpes simpleks dermatitis
Muluscum kontagiosum
Varicella-zoster dermatitis
Dermatitis alergi dan kontak
Dermatitis seboroik
Dermatitis stapilococcal
Infeksi parasit (demodex, pthiriasis palpebraum)

Diagnosis Banding

Diagnosis banding dari keratokonjunctivitis, konjunctivitis, keratitis, khalazion, hordeolim, rosacea occular, trichiasis, selulitis preseptal, basal cell carcinoma, contact lens complication dan lain sebagainya.


Pemeriksaan Penunjang

Blefaritis secara umum tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang khusus. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan seperti transluminasi kelenjar meibom, kultur kelopak, sitologi, marginal biopsi dan analisis sekret.

Pada blefaritis terkait dermatitis seboroik, maka secara histologi didapatkan spongiosis, limfohistiositik, mononuclear cellular infiltrat di dermis superfisial. Blefaritis staphylococcal merupakan peradangan kronis nongranulomatosa disertai dengan neutrofil, akantosis dan parakeratosis.


Tatalaksana

Nonmedicamentosa:

  1. Membersihkan kelopak mata dengan lidi kapas dibahasi dengan air hangat.
  2. Membersihkan dengan shampo dan sabun
  3. Kompres hangat selama5-10 menit

Medikamentosa:

  1. Apabila ditemukan ulkus pada kelopak mata, dapat diberikan salep atau tetes mata antibiotik hingga gejala menghilang.
  2. Blefaritis anterior seboroik/squamosa : bersihkan sisik dengan sabun, salep salisil 1%. Kompres hangat. Antibiotik topikal eritromicin, basitracin atau gentamicin 12 x 2 tetes hingga gejala membaik.
  3. Blefaritis anterior ulceratif/staphylococcal : bersihkan krusta, kompres hangat. Antibiotik topikal eritromicin, basitracin atau gentamicin 12 x 2 tetes hingga gejala membaik. Antibiotik oral Doksisiklin 1×100 mg, selama 2-4 minggu atau azithromicin 1×500 mg selama 5 hari.
  4. Blefaritis posterior : pemijatan kelopak mata. Antibiotik topikal eritromicin, basitracin atau gentamicin 12 x 2 tetes hingga gejala membaik. antibiotik oral tetrasiklin 1x1000mg dalam dosis terbagi selama 6-12 minggu.

Edukasi dan konseling

  1. Beritahu ke pasien bahwa kulit kepala, alis mata, dan tepi palpebra harus selalu dibersihkan terutama pada pasien dengan dermatitis seborhoik
  2. Memberitahu pasien dan keluarga untuk menjaga higenitas personal, dan lingkungan.

Referensi

Divani S, Barpakis K, Kapsalas D. 2009. Chronic blepharitis caused by Demodex folliculorum mites.Cytopathology.

Held KS. 2000. BlepharitisDecision Making in Ophthalmology. 2nd ed. 50-51.

Jackson WB. 2008. Blepharitis: current strategies for diagnosis and managementCan J Ophthalmol.. 43(2):170-9.

Roy FH. 2000. Ocular Differential Diagnosis. 7th ed.

 

Baca Juga:  Ruptur Uteri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here