Sinusitis – Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

0
1570

Definisi

Sinusitis dicirikan dengan adanya inflamasi pada sinus paranasal. Karena mukosa terkait, dan seringnya di ikuti dengan rhinitis. Sehingga pada kasus nyata sering di sebut dengan rhinosinusitis. Rhinosinusitis di klasifikasikan berdasarkan letak anatomisnya. (maksilaris, etmoidal, frontal dan spenoidal), organisme patogennya (viral, bacterial dan fungal), adanya komplikasi ( orbital dan intracranial) dan faktor yang mengasosiasi (nasal polyposis, immunosupresan, dan variasi anatomis).

Sinusitis akut merupakan diagnosis klinis, dimana dapat berupa turunan dari reaksi vasomotor dan alergi dari rhinitis, dan terjadi pada traktus respirasi atas. Tidak terdapat spesitik gejala klinis, dan tanda dari sensitive, atau spesifik dari sinusitis. Tujuan utama manajemen acut sinusitis adalah untuk menyingkirkan infeksi, menurunkan keparahan dan durasi gejala dan mencegak komplikasi. Orolaryngologist direkomendasikan untuk menanganinya.

Disebut subacut sinusitis apabila terdapat progresi temporal gejala pada 4-12 minggu, dan dikatakan recurrent acut sinusitis abila terdiagnosis ketika 2-4 episode infeksi terjadi tiap tahun selama 8 minggu antara episode satu ke episode lainnya. Chronic sinusitis merupakan persisten gejala tak terlihat lebih dari 12 minggu dengan atau tanpa exacerbasi akut.


[toc]


Patofisiologi

Patofisiologi dari sinusitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu :

a. Rhinogen

Inflamasi pada cavum nasi dapat menyebabkan gangguan pada kompleks osteomeatal. Bila terjadi edema di kompleks osteomeatal, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan lendir tidak dapat di alirkan. Maka terjadi gangguan frainase dan ventilasi di dalam sinus sehingga silia menjadi kirang aktif dan lendir yang diproduksi mukosa sinus menjadi lebih kental. Akumulasi secret ini merupakan media yang bagus untuk tumbuhnya bakteri patogen. Bila sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan retensi lendir, sehingga timbul infeksi bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi perubahan jaringan menjadi hipertropi. Polipoid atau pembentukan polip dan kista.

b. Odontogen

Infeksi atau abses pada puncak gigi rahang atas (M1, M2 M3 serta P1 dan P2), dapat juga mengalir ke sinus maksilaris. Sepuluh persen dari infeksi antrum maksilaris disebabkan oleh penyakit pada akar gigi. Dental granuloma, terutama pada premolar 2 dan molar 1 menyebabkan sinusitis maksilaris akut. Selain itu ekstraksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksilaris bila akar gigi terdorong ke dalam sinus.

Baca Juga:  Perdarahan Subkonjunctiva (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

Sebab lain bisa berupa infeksi pada faring : faringitis, adenoiditis, tonsillitis akut. Berenang dan menyelam, pendarahan mukosa sinus paranasal karena trauma, serta barotrauma yang dapat menyebabkan nekrosis mukosa.

Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila gejalanya berlangsung dari beberapa hari sampai 4 minggu. Sinusitis subakut terjadi bila berlangsung 4 minggu sampai 12 minggu. Sinusitis kronis  berlangsung lebih dari 12 minggu. Tetapi apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sebagai sinusitis subakut bila tanda-tanda radang akut ada. Dikatakan sinusitis subakut bila tanda radang akut sudah reda dan perubahan mukosa sinus telah irreversible, misalnya berubag menjadi jaringan granulasi atau polipoid.


Etiologi

Rhinosinusitis dapat disebabkan oleh berbagai sebab. Seperti karena infeksi virus pada saluran nafas atas. Infeksi saluran nafas atas ini seperti oleh rhinovirus, corona virus, influenza A dan B, parainfluenxa, respiratoru syncytial virus, adenovirus dan enterovirus.

Acut bacterial rhinosinusitis sangat sering kejadiannya dan berasosiasi dengan infeksi saluran nafas atas. S. aureus merupakan penyebab sering di sinusitis spenoid.  P. aeruginosa dan bakteri gram negatif lainnya telah diketahui menjadi penyebab dari sinusitis terutama pada pasien dengan immunokompromise dan infeksi HIV. Patogen tersering dari sinus maksilaris yang telah berhasil di kultir adalah stremtococcus pneumoniae, hemofilus influenza dan Moraxella caterralis, streptococcus pyogens, straphylococcus aureus dan anaerob frekuensinya jarang pada sinusitis yakni hanya sekitar 10 %.

Sinusitis juga dapat disebabkan karena fungi, yang disebut fungal sinusitis (allergic fungal sinusitis) yang dapat  terlihat pada lower airway disorder dan broncopulmonaru allergi. Jamur tersebut diantaranya aspergillus dan altemara. Bipolaris dan curvularia juga ditemukan berkaitan dengan allergic fungal sinusitis.


Epidemiologi

Sinusitis terjadi 1 dari 7 orang kejadian di USA, dan lebih dari 30 juta individu terdiagnosis sinusitis tiap tahunnya. Sinusitis terjadi pada awal musim gugur ke musim semi. Di USA di estimasi 35 juta orang pertahun kejadian. Di dunia sendiri sinusitis berefek 3 dari 100 orang sedangkan sinusitis kronis terjadi 1 dari 1000 orang.

Baca Juga:  Leptospirosis (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

Prognosis

Sinusitis tidak menimbulkan mortalitas yang sangat signifikan. Karena komplikasinyalah yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas.  Sekitar 40% kasus sinusitis dapat di atasi dengan antibiotic. Sinusitis yang tidak ditangani segera dapat menginduksi meningitis, cavernous sinus thomboplebitis, orbital cellulitis dan abcees serta brain abcess.


Tanda dan Gejala

Pada pesien rhinitisinusitis terdapat nyeri pada pipi yang teradiasi ke region frontal dan gigi, terdapat hidung kemerahan, juga ditemukan di pipi dan kelopak mata. Tenderness terasa pada saat penekanan di lantai dari sinus frontalis sekitar cantus interna. Reffered pain di bawa ke vertex, temporal dan occiput.

Pada pasien sinusitis juga terdapat postnasal discharge, blocked nose, persisten batuk dan iritasi faring. Selain gejala di atas, juga didapatkan nyeri wajah dan hyposmia. Untuk lama infeksinya dapat persisten 7-10 hari. Untuk gedala dari acute bacterial rhinosinusitis, meliputi gejala berikut ini :

  • Facial pain or pressure (especially unilateral)
  • Hyposmia/anosmia
  • Nasal congestion
  • Nasal drainage
  • Postnasal drip
  • Fever
  • Cough
  • Fatigue
  • Maxillary dental pain
  • Ear fullness/pressure

Pada pemeriksaan fisik, menggunakan anterior rhinoscopi dengan atau tanpa decongestan sangatlah penting untuk mengevaluasi nasal mucuse dan discharge (warnanya). Pemeriksaan anterior rhinoscopy juga mengevaluasi variasi anatomis paranasal. Pemeriksaan endoskopis dilakukan untuk mengevaluasi dari discharge dari meatus media dan melihat ostiomeatal obstructuin. Pemeriksaan juga dibantu dengan nasal spekulim dan lampu. Beberapa hal yang dicatat diantaranya :

  • Purulent nasal secretions
  • Purulent posterior pharyngeal secretions
  • Mucosal erythema
  • Periorbital edema
  • Tenderness overlying sinuses
  • Air-fluid levels on transillumination of the sinuses (60% reproducibility rate for assessing maxillary sinus disease)
  • Facial erythema

Diferensial Diagnosis

Diferensial diagnosis pada kasus ini diantaranya Allergic and Environmental Asthma, Asthma, Bronchitis, Haemophilus Influenzae Infections, Headache, Cluster, Headache, Tension, Influenza, Migraine Headache, Moraxella Catarrhalis Infections, Mucormycosis, Otitis Media, Parainfluenza Virus, Rhinitis, Allergic Rhinocerebral Mucormycosis, Rhinoviruses Sinusitis, Chronic Staphylococcal Infections

Baca Juga:  Hemofilia : Sebuah Gangguan Pembekuan Darah Turunan

Tatalaksana

Beberapa tindakan untuk mengevaluasi sinusitis ini, diantaranya :

  1. Blood exam : ESR naik, C-protein level naik.
  2. Tes imunodefisiensi : Memeriksa immunoglobulin studies dan HIV serologic test.
  3. Nasal sitology : Memeriksa adanya allergic rhinitis, eosinophilia, nasal polyposis, dan aspirin sensitivitas.
  4. Cultur nasal secretion : Untuk memeriksa koloni dari bakteri atau organisme lain, dimana dibedakan dengan flora normal, dikatakan patogen bila didapatkan lebih dari 104 CFU/unit. Sebelumnya dapat dilakukan asprasi dari sinus yakni langsung antral pucture.
  5. Pemeriksan Radiologi : Meliputi pemeriksaan X-ray dengan berbagai posisi, CT scan dan MRI. USG dan paranasal biopsy juga dapat dilakukan untuk mengevaluasi sinusitis.
  6. Treatment

Untuk pengobatan dari sinusitis ini dapat dilakukan beberapa tindakan, diantaranya. :

  1. Non antibiotic terapi
  2. Pemberian intranasal steroid untuk ajufan antibiotic.
  3. Topical vasocantriktor (oxymetazoline hydrochlroride) untuk 3-5 hari. Tetapi bila penggunaan lama dapat menyebabkan recurrent congesti, vasocilatasi dan rhinitis medicamentosa.
  4. Mucolityc agent (guaifenesin, saline lavage untuk menipiskan sekresi mucus dan memperbaiki drainase.
  5. Antibiotic terapi
  6. Amoxicillin
  7. First line menggunakan amoxicillin dan macrolide.
  8. Tindakan Surgery

Recurrent dan persisten sinusitis dengan komplikasi memerlukan terapi bedah. Kegagalan antibiotic terutama pada sinusitis persisten dan kronis (seperti ditemukan kista fibrosis) merupakan indikasi dari intervensi intervensi. FESS (Functional Endoscopic sinus Surgery merupakan treatment dari sinusitis.


Referensi

Buku ajar THT-KL, 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here