Mual Muntah dalam Kehamilan : Hiperemesis Gravidarum

0
1632

Sahabat doktermuslim.com sekalian, mual muntah merupakan gejala yang telah kita fahami bersama, dimana seseorang yang mengalami mual dan muntah akan merasa perut merasa tidak nyaman, dan akhirnya keluar isi dari lambung melalui saluran pencernaan atas.

Apabila mual dan muntah ini terjadi pada orang biasa, maka harus dicari penyebab dari penyakitnya. Namun, fakta menunjukkan mual dan muntah sendiri sering terjadi pada ibu hamil. Sebagaimana kita ketahui bahwa mual dan muntah ini merupakan tanda tidak pasti dari terjadinya kehamilan atau tidak. Pada bahasan berikutnya, kita akan fokus membahas terkait mual dan muntah selama kehamilan atau dalam istilah medis disebut dengan hipermemesis gravidarum.


DEFINISI

Mual dan muntah pada kehamilan adalah mual dan muntah yang terjadi pada kehamilan hingga usia kehamilan 16 minggu. Pada mual dan muntah ini, dapat terjadi dehidrasi apabila keadaan mual dan muntahnya berat. Selain itu, mual dan muntah ini akan memicu ibu hamil tersebut mengalami gangguan asam dan basa. Fakta menunjukkan bahwa selain yang telah kemi sebutkan, bahwa pada mual muntah yang berat akan disertai dengan gangguan elektrolit dan peningkatan kadar keton dalam darah, atau disebut dengan ketosis.

Dalam dunia medis, dikenal dua istilah berkaitan dengan mual dan muntah selama kehamilan. Pertama kita sebut dengan emesis gravidarum, kedua kita sebut dengan hiperemesis gravidarum.

Emesis gravidarum adalah mual dan muntah yang terjadi pada ibu hamil dan keluhan ini terus menerus terjadi hingga melewati usia kehamilan 20 minggu. Pada emesis gravidarum tidak terjadi gangguan aktifitas sehari-hari, dan tidak ditimbulkan komplikasi patologis.

Hipermemesis Gravidarum adalah, mual dan muntah yang terjadi pada ibu hamil dimana mual dan muntahnya dapat mengganggu aktifitas sehari-hari. Mual dan muntah ini akan menimbulkan beberapa komplikasi seperti ketonuria (peningkatan keton dalam urin), dehidrasi, hipokalemia (penurunan kadar kalium dalam darah) dan penurunan berat badan.


ETIOLOGI

Untuk penyebab secara pasti hiperemesis gravidarum ini belum diketahui, tetapi ada beberapa faktor predisposisi yang kemungkinan dapat memicu terjadinya hipermemesis gravidarum.

Dikatakan bahwa, hipermemesis gravidarum merupakan sebuah gejala dari komplikasi penyakit tertentu seperti hipertiroid, penyakit jiwa, penyakit saluran pencernaan, diabetes gestasional dan asma. Adanya kehamilan ganda (multiple pregnancy) dengan janin lebih dari satu (gemeli), membuat risiko terjadinya hiperemesis gravidarum pada ibu meningkat.

Fakta menunjukkan, mual dan muntah selama kehamilan dapat dipicu oleh obat-obatan kontrasepsi oral, dan merokok dapat menurunkan risiko hipermemesis gravidarum. Tetapi walaupun menurunkan hipermemesis gravidarum. Merokok tidak kami sarankan karena bahayanya jauh lebih besar.

Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat memicu terjadinya hiperemesis gravidarum, diantaranya peningkatan hormon-hormon selama kehamilan yang berkontribusi terhadap mual muntah. Adanya riwayat hiperemesis gravidarum sebelumnya dan pada keluarga turut meningkatkan risiko hiperemesis gravidarum. Faktor lain, yang dapat memicu risiko hiperemesis gravidarum, diantaranya : faktor psikologis, stress, emosi yang tidak stabil, status dan nutrisi kehamilan yang kurang tercukupi dengan baik.


PATOFISIOLOGI

Sampai saat ini, patofisiologi daru hiperemesi gravidarum masih kontroversial. Diketahui bahwa banyak faktor yang dapat memicu terjadinya hipermemesis gravidarum, baik dari sisi biologis, psikologis dan sosiobudaya.

Baca Juga:  5 Hal Penyebab Impotensi yang jarang Anda Ketahui

Wanita dengan hipermemesis gravidarum akan terjadi peningkatan kadar hCG. Hormon hCG ini secara fisiologi akan menstimulasi glandula tyroid tepatnya pada reseptor TSH. Hormon hCG berada pada level puncak pada trimester pertama. Hormon hCG membuat TSH tadi akan tersupresi, dan free tiroksin (T4) kadarnya meningkat dengan tidak adanya gejala hipertiroid baik itu berdebar-debar ataupun pembesaran hormon tyroid. Dan ternyata pada trimester kedua kehamilan, maka fungsi tyroid ini kembali normal meskipun tanpa menggunakan obat antitiroid. Adanya mutasi genetik pada reseptor TSH, akan menimbukan hipermemesis gravidarum meskipun kadar hCG normal.

Beberapa penelitian menunjukkan tingginya kadar estradiol akan memperparah mual muntah selama kehamilan meskipun pada faktanya belum diketahui antara kadar estrogen dalam peningkatan mual muntah pada kehamilan. Memang adanya mual dan muntah selama kehamilan, dikatakan terjadi peningkatan kadar estradiol, bahkan berkaitan dengan peningkatan hormon prolaktin.

Penggunaan kontrasepsi oral, dikatakan dapat meningkatkan resiko mual muntah selama kehamilan. Progesteron diketahui akan mencapai puncak pada trimester pertama dan berfungsi menurunkan aktifitas otot polos, tetapi juga masih belum ada buktu progesteron ini menjadi penyebab langsung terjadinya mual dan muntah selama kehamilan.

Teori selanjutnya mual muntah kehamilan berkenaan dengan gangguan saluran pencernaan. Adanya pacemaker lambung, menyebabkan peristaltik yang ritmis dan stabil pada lambung. Adanya gangguan myoelektrik pada lambung akan memicu terjadinya dysritmia pada lambung baik itu berupa bradygastrias (penurunan frekuensi kontraksi lambung) dan tachygastrias (peningkatan frekuensi kontraksi lambung). Gastrik disritmia berkaitan dengan morning sickness. Mekanisme terjadinya gastric disritmia meliputi peningkatan kadar estrogen, peningkatan kadar progesteron, penyakit tiroid, abnormalitas tonus vagal dan simpatik dan gangguan sekresi vasopressin.


DIAGNOSIS DAN KARATERISTIK

Hipermemesis gravidarum, yakni mual muntah selama kehamilan, pada derajat berat haruslah memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Mual dan muntah yang hebat
  2. Berat badan turun > 5%, dari berat badan sebelum hamil
  3. Ketonuria (peningkatan keton dalam urin)
  4. Dehidrasi
  5. Dan gangguan keseimbagan elektrolit.
Baca Juga:  Bronkitis Kronis : Interpretasi Radiologis X-Ray

Selain kriteria tersebut, seseorang yang mengalami hiperemesis gravidarum juga dapat mengalami gejala berikut ini seperti : gangguan tidur, hiperolfaksi, dysgeusia, penurunan nafsu makan, depresi, cemas menyeluruh, mood tidak stabil dan penurunan konsentrasi.


GRADING of HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Dalam dunia medis, terdapat 3 (tiga) tingkatan atau grading dari hiperemesis gravidarum. Tingkatan-tingkatan tersebut, diantaranya :
1. Grade I
Pada grade 1 ini, ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum akan merasakan badanya lemas, lemah dan lesu. Nafsu makan dirasakan menurun, berat badan menurun, nyeri perut bagian atas/ uluhati. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi akan meningkat lebih dari 100 x/menit, tekanan darah sistolik akan turun, dan turgor kulit berkurang (> 2 detik) yang mengindikasikan tanda dehidrasi. Selain gejala tersebut, juga sering dibarengi dengan lidah yang kering dan mata yang terlihat cekung.
2. Grade II
Pada grade 2 ini, ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum akan terjadi penurunan kesardaran hingga level apatis. Lidah menjadi kering, dan kotor. Pada pemeriksaan fisik didapatkan nadi yang semakin cepat dan teraba lemah, sklera sedikit ikterik, dan suhu kadang meningkat. Pada pemeriksaan bau nafas, didapatkan nafas berbau aceton dan pada pengukuran jumlah urin, didapatkan menurunan volume urin (Oligouria).
3. Grade III
Pada grade 3 ini, ibu hamil akan merasakan Kesadaran umumnya jauh lebih lemah lagi. Penurunan kesadaran ini hingga sampai somnolen bahkan sampai koma. Memang seringnya pada grade 3 ini mual dan muntah sudah berhenti, tetapi pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah yang semakin turun, dan sklera yang ikterik (kuning). Apabila ibu hamil terdapat penyakit ensefalopati wernicke maka dapat ditemui gejala lain seperti nistagmus, diplopia, dan perubahan mental status.


APA YANG HARUS DILAKUKAN APABILA MENJUMPAI HIPEREMESIS GRAVIDARUM?

Selanjutnya, apa yang harus kita lakukan apabila menjumpai gejala mual muntah dalam kehamilan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah tetaplah tenang dan jangan panik. Selanjutnya, sedapat mungkin pertahankan kecukupan nutrisi ibu hamil tersebut, termasuk suplementasi dari vitamin dan asam folat di awal kehamilan tersebut. Anjurkan ibu tetap istirahat yang cukup dan menghindari aktifitas yang berat agar tidak kelelahan.

Apabila didapati mual dan muntah yang berat, maka segeralah bawa ke IGD rumah sakit. Di rumah sakit akan ditentukan terlebih dahulu diagnosis dari penyakit ini, dan baru diberikan tatalaksana terapi. Apabila diagnosisnya memang hiperemesis gravidarum, maka tatalaksana yang diberikan adalah:

  1. Diberikan doksilamin dikombinasi dengan vitamin B6 4 tablet/hari. Tablet dapat diberikan 1 tablet pagi, 1 tablet siang dan 2 tablet saat mau tidur.
  2. Apabila masih belum dapat teratasi maka dapat diberikan dimenhidrinat oral atau supositoria 4-6 kali sehari. Alternatifnya prometazin 3-4 kali per oral.
  3. Apabila masih belum dapat teratasi, tetapi tidak terjadi dehidrasi dapat diberikan obat salah satu dari ini, seperti: klorpromazin, proklorperazin, prometazin, metoklopramid, dan ondansetron.
  4. Apabila masih belum teratasi juga dan terdapat tanda dehidrasi, segeralah pasang jalur intravena. Berikan cairan sesuai dengan derajat dehidrasi ibu dan kebutuhan cairanya. Berikan juga suplemen multivitamin melalui jalur IV dan dimenhidrinat yang dilarutkan dalam NaCl selama 20 menit, setiap 4-6 jam sekali. Bila perlu berikan obat-obatan salah satu dari ini klorpromazin, proklorperazin, prometazin, dan metoklopramid. Bila perlu dapat ditambahkan metilprednisolon tiap 8 jam atau ondansetron selama 15 menit intravena setiap 12 jam.
Baca Juga:  Kista Ovarium : Kenali Gejala, Pencegahan hingga Tatalaksananya

Segala tindakan medis, dan pengobatan haruslah dalam pengawasan tenaga kesehatan. Jangan mencoba untuk mengobati sendiri karena mual muntah dalam kehamilan merupakan sangat berbahaya baik bagi ibu sendiri maupun bagi janin yang dikandungnya. Segeralah berkonsultasi ke dokter terdekat apabila menjumpai hal ini. Demikian sedikit yang dapat kami bagikan, semoga bermanfaat,


REFERENSI

Bailit JL. Hyperemesis gravidarium: Epidemiologic findings from a large cohort. Am J Obstet Gynecol. 2005 Sep. 193(3 Pt 1):811-4.
Creasy RK, Resnik R. Gastrointestinal disease in pregnancy. Creasy RK, Resnik R, eds. Maternal-Fetal Medicine, Principles and Practice. 5th ed. Philadelphia, Pa: WB Saunders; 2004. 1109-22.
Kementrian Kesehatan RI, 2013, Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan.
Kuscu NK, Koyuncu F. Hyperemesis gravidarum: current concepts and management. Postgrad Med J. 2002 Feb. 78(916):76-9.
Lagiou P, Tamimi R, Mucci LA, et al. Nausea and vomiting in pregnancy in relation to prolactin, estrogens, and progesterone: a prospective study. Obstet Gynecol. 2003 Apr. 101(4):639-44.
Murata T, Suzuki S, Takeuchi T, et al. Relation between plasma adenosine and serum TSH levels in women with hyperemesis gravidarum. Arch Gynecol Obstet. 2006 Mar. 273(6):331-6.
Rodien P, Jordan N, Lefevre A, et al. Abnormal stimulation of the thyrotrophin receptor during gestation.Hum Reprod Update. 2004 Mar-Apr. 10(2):95-105.
Sherman PW, Flaxman SM. Nausea and vomiting of pregnancy in an evolutionary perspective. Am J Obstet Gynecol. 2002 May. 186(5 Suppl Understanding):S190-7.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here