Sindrom HELLP : Gejala, Kriteria, dan Tatalaksana

0
1907

Sindrom HELLP adalah serial gejala yang terdapat pada wanita hamil, dimana ibu hamil mengalami hemolisis, meningkatnya kadar enzim liver, dan rendahnya trombosit (platelet). Sindrom ini adalah varian dari preeklamsia, tetapi satu sama lain berbeda. Penyebabnya masih belum diketahui, dan dipercaya kejadiannya sekitar 0.2-0.6% pada semua kehamilan.

Sindrom HELLP terdiri dari H (Hemolisis), EL (Elevasi enzim hepar), dan LP (Low Platelets count). Hemolisis adalah pecahnya sel darah merah sehingga kadar hemoglobin ibu hamil rendah, Elevasi enzim hepar yaitu meningkatnya enzim-enzim fungsi hepar, dan rendahnya platelet atau trombosit dimana trombosit membantu pembekuan darah.

Sindrom ini sering diasumsikan selalu terjadi pada pasien preeklamsia. Sekitar 4-12% wanita dengan diagnosis preeklamsia, akan berkembang menjadi sindrom HELLP. Diagnosis dari sindrom ini dapat dirancukan dengan hepatitis, penyakit empedu, dan ITP (Idhiopathic Trombositopenic Purpura), sebuah gangguan perdarahan.

Penyebab Sindrom HELLP

Peneliti masih belum mengetahui penyebab pasti sindrom ini, meskipun biasanya terjadi pada preeklamsia dan hipertensi pada kehamilan. Ada beberapa faktor risiko pada sindrom ini, diantaranya:

  1. Sebelumnya ada riwayat sindrom HELLP
  2. Preeklamsia dan ibu hipertensi kehamilan
  3. Wanita dengan usia lebih dari 25 tahun
  4. Ras kaukasian
  5. Ibu hamil multipara (bayi lahir lebih dari 2)

Komplikasi dari sindrom ini dapat terjadi pada ibu dan anaknya. Adapun komplikasi dan risiko yang terjadi, diantaranya: abruptio plasenta, edema pulmo, DIC (Diseminated intravascular coagulopati), ARDS, ruptur hepar, gagal ginjal akut, IUGR (intrauterin Growth retriction), gagal nafas, dan tranfusi darah.

Angka mortalitas ibu 1.1%, sedangkan morbiditas dan mortalitas bayi 10-60% tergantung berbagai faktor, seperti usia gestasi, derajat keparahan, dan pengobatan yang dilakukan.

Gejala Sindrom HELLP

Gejala yang sering muncul dari sindrom ini, diantaranya:

  1. Ibu hamilpusing
  2. Ibu mual dan muntah terus-terusan dan memburuk, juga ada gejala seperti flu
  3. Nyeri pada perut area kanan atas, dan tenderness
  4. Lemah lesu
Baca Juga:  PCOS adalah Polikistik Ovarian Sindrom : Gejala Hingga Pengobatan [Lengkap]

Wanita dengan sindrom ini juga dapat mengalami berbagai gejala lain, namun tidak semua dapat mengalami gejala dibawah ini. Gejala yang kadang juga muncul seperti:

  1. Gangguan penglihatan
  2. Tingginya tekanan darah
  3. Adanya protein di urin (proteinuria)
  4. Bengkak kaki, tubuh dan wajah (Edema)
  5. Pusing dan sakit kepala hebat
  6. Adanya perdarahan

Pemeriksan Sindrom HELLP

Karena gejala sindrom ini mirip dengan gejala penyakit lain, maka pemeriksaan darah serial harus dilakukan, dan juga pemeriksaan fungsi hepar, serta memperhatikan gejala pada trimester 3. Sindrom ini mungkin juga dapat terjadi pada sebelum trimester III, tetapi relatif jarang. Ini juga dapat terjadi saat 48 jam setelah persalinan, dimana gejalanya dapat muncul hingga 7 hari.

Tekanan darah dan pemeriksaan urin dilakukan untuk melihat adanya protein. Ada beberapa tanda yang harus kita perhatikan, diantaranya:

  1. Hemolisis Sel darah merah : terdapat abnormalitas pemeriksaan darah tepi, laktat dehidrogenasi > 600 U/L, bilirubin > 1.2 mg/dl.
  2. Meningkatnya Kadar Enzim Hepar : serum aspartat amniotransferase > 70 U/L, laktat dehidrogenase > 600 U/L.
  3. Rendahnya kadar Trombosit : diperiksa jumlah platelet/trombosit.

Tatalaksana Sindrom HELLP

Tatalaksana sindrom ini didasarkan pada usia kehamilan, tetapi melahirkan bayi segera adalah cara terbaik untuk menghentikan kondisi yang dapat memicu komplikasi pada ibu dan bayi. Kebanyakan gejala dan efek samping sindrom ini akan muncul 2-3 hari persalinan.

Jika ibu dengan usia kehamilan kurang dari 34 minggu, dokter akan mengevaluasi fungsi paru, untuk melihat apakah layak dilahirkan atau tidak. Pada dasarnya, manajemen yang dapat dilakukan sampai bayi lahir adalah:

  1. Ibu bed rest, dan dimonitor serta observasi
  2. Diberikan kortikosteroid untuk membantu perkembangan fungsi paru lebih cepat.
  3. Diberikan MgSO4, magnesium sulfat untuk mencegah kejang
  4. Tranfusi darah jika kadar darah rendah
  5. Lakukan tatalaksana penurunan tekanan darah
  6. Monitoring terhadap janin, termasuk sonogram, tes biopsikologis, NST (non stress test) dan evaluasi gerakan bayi.
Baca Juga:  Atonia Uteri : Gejala, Pemeriksaan dan Pengobatan

Jika bayi usia lebih dari 34 minggu, gejala mulai muncul dan terjadi perburukan, maka disarankan untuk dilakukan persalinan segera. OPERASI SESAR adalah tindakan yang paling sering dilakukan dan direkomendasikan. Sindrom ini sebenarnya tidak menjadi alasan utama operasi sesar, dan hanya tergantung situasi terutama ada komplikasi dan mengancam nyawa ibu dan janin.

Pencegahan Sindrom HELLP

Karena penyebabnya belum diketahui, maka belum ada cara untuk mencegah sindrom ini. Identifikasi dini dan pengobatan dini adalah cara terbaik mencegah sindrom ini menjadi memburuk. Sindrom ini dipercaya berkaitan dengan preeklamsia, sehingga makan makanan bergizi, olahraga dan mengukur tekanan darah akan membantu sebagai upaya preventif.

Oleh: dr. Wiwid Santiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here