Pemeriksaan Neurologis Vertigo

0
4160

VERTIGO

Vertigo merupakan gejala dari berbagai macam penyakit. Dalam mencapai diagnosis etiologis, maka diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan neurologis spesifik vertigo. Gejala vertigo perifer umumnya relatif lebih berat dibandingkan vertigo tipe sentral, tetapi pada vertigo sentral faktor-faktor risiko sangat penting untuk dapat dikendalikan.


PEMERIKSAAN FISIK NISTAGMUS

Pemeriksaan neurologis umum, sering tidak ditemukan kelainan. Tetapi pada pemeriksaan nistagmus dapat ditemui kelainan. Nistagmus horizontal biasanya dijumpai pada vertigo tiper perifer, sedangkan nistagmus vertikal dan rotasional dijumpai pada vertigo tipe sentral.

Selain pemeriksaan nistagmus, perhatikan juga kesadaran pasien. Periksa juga nervus kranialis, sistem syaraf sensoris dan motoris.


PEMERIKSAAN NEUROLOGIS SPESIFIK VERTIGO

Pemeriksaan neurologis vertigo dapat dilakukan dimana untuk memeriksa fungsi serebelum. Pemeriksan spesifik yang dapat membantuk menentukan dianosis penyebab vertigo antara lain:

1. Tes Romberg

  • Pemeriksa berada di belakang pasien
  • Pasien berdiri tegak dengan kedua tangan didada, kedua mata terbuka
  • Diamati selama 30 deik
  • Setelah itu pasien diminta untuk menutup mata dan diamati selama 30 detik
  • Apabila dalam keadaan mata terbuka pasien sudah jatuh, menandakan ada kelainan serebelum
  • Apabila dalam keadaan mata tertutup pasien cenderung jatuh ke satu sisi, menandakan kelainan vestibular (propioseptif).

2. Tes Romberg dipertajam

  • Apabila dalam keadaan mata tertutup pasien cenderung jatuh ke satu sisi, menandakan kelainan vestibular (propioseptif).
  • Apabila dalam keadaan mata terbuka pasien sudah jatuh, menandakan ada kelainan serebelum
  • Intepretasi sama dengan tes romberg
  • Kemudian pasien menutup mata dan diamati selama 30 detik
  • Pasien diamati dalam keadaan mata tebuka selama 30 detik.
  • Tumit pasien berada di depan ibu jari kaki yang lainnya
  • Pemeriksa berada di belakang pasien
Baca Juga:  Komponen Darah Tranfusi

3. Tes Tandem Gait

  • Pasien diminta berjalan disebuah garis lurus dengan menempatkan tumit di depa jari kaki sisi yang lain secara bergantian
  • Pada kelainan serebelar: pasien tidak dapat melakukan jalan tandem dan jatuh ke satu sisi
  • Pada kelainan vestibular: pasien akan mengalami deviasi ke sisi lesi.

4. Tes Fukuda

  • Pemeriksa berada di belakang pasien
  • Tangan diluruskan ke depan, mata pasien ditutup
  • Pasien diminta berjalan ditempat 50 langkah
  • Tes fukuda dianggap tidak normal bila terdapat deviasi ke satu sisi > 30o atau maju/mundur > 1 meter.
  • Tes fukuda menunjukkan lokasi kelainan di sisi kanan atau kiri.

5. Tes Past Pointing

  • Pasien diminta duduk dan mengangkat satu tangan dengan jari mengarah ke atas
  • Jari pemeriksa diletakkan di depan pasien
  • Pasien diminta dengan ujung jarinya menyentuh ujung jari pemeriksa beberapa kali dengan mata terbuka
  • Setelah itu lakukan dengan cara yang sama dengan mata tertutup
  • Ketika mata tertutup, jari pasien akan deviasi ke arah lesi : menunjukan kelainan di vestibular
  • Ketika terjadi hipermetri atau hipometri : menunjukkan kelainan serebelar.

6. Tes Head Thrust

  • Pasien diminta memfiksasikan mata pada hidung/dahi pemeriksa
  • Setelah itu kepala dugerakkan secara cepat ke satu sisi
  • Pada kelainan vestibular perifer akan dijumpai adanya sikadik

7. Pemeriksaan Nistagmus Bedside Sederhana Dengan Atau Tanpa Kacamata Frenzel

  • Pasien diminta mengikuti jari pemeriksa ke kiri atau ke kanan 30o untuk melihat adanya nistagmus horizontal.
  • Pasien ke arah atas dan bawah ikut jari pemeriksa untuk melihat adanya nistagmus vertikal

8. Tes Head Shaking

  • Kepala pasien digerakkan ke kiri dan ke kanan 20 hitungan
  • Kemudian di amati adanya nistagmus vertikal atau horizontal
Baca Juga:  Sindrom Serotonin : Gejala, Penyebab hingga Tatalaksana

9. Tes Dix-Hallpike

  • Pasien diminta menoleh 45o ke satu sisi, setelah itu pasien dijatuhkan sehingga kepala menggantung 15o di bawah bidang datar.
  • Diamati adakah nistagmus atau tidak.
  • Kemudian pasien tegak kembali dan diamati adakah nistagmus atau tidak
  • Hal yang sama dilakukan kembali pada sisi yang lainnya.
  • Pemeriksaan dix-hallpike ini dapat membedakan kelainan sentral atau perifer
  • Pada kelainan perifer didapatkan : latensi 3-10 detik, lama nistagmus 10-30 detik atau kurang dari 1 menit, adanya fatigue, disertai gejala vertigo yang berat.
  • Pada kelainan sentral: didapatkan nistagmus langsung muncul, tidak ada fatigue, dan gejala vertigo bisa ada atau tidak.

REFERENSI

Joesoef, AA. & Kusumastuti K. 2002. Neuro-otologi Klinis: Vertigo. Surabaya: Airlangga University Press
Kelompok Studi Vertigo PERDOSSI. 2012. Pedoman Tata Laksana Vertigo, Jakarta: PERDOSSI
PERDOSSI. 2000. Vertigo Patofisiologi, Diagnosis dan Terapi. Jakarta : Jansen Pharmaceuticals.
Sutarni, Ghazali, abdul Ghofir, 2015.  Bunga Rampai Vertigo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here