Bronkitis Kronis : Interpretasi Radiologis X-Ray

0
6029

DEFINISI

Bronkitis kronis adalah peradangan pada bronkus  atau bronkhi dan biasanya terjadi secara bilateral (kanan dan kiri). Tanda klinis dari peradangan akut ini adalah demam dan batuk produktif yang akut. Sedangkan saat dalam fase kronis, maka tandanya berupa iritasi bronkial dengan penambahan sekresi dan batuk produktif yang mengandung sputum dan terjadi pada setiap hari selama sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam setahun, dan paling sedikit selama 2 tahun berturut-turut.


[toc]


Bronkitis kronis adala bagian dari COPD (chronic Obstructive Pulmonary Disease). Khasnya adalah inflamasi di membran mukosa dari tubulus bronkial. Kerusakan  jaringan akan menyebabkan dikeluarkannya enzim yang dapat memicu terjadinya kerusakan lebih lanjut dan peningkatan produksi yang ekstra dari sel goblet sehingga diproduksi mukus yang banyak (Phlegm) dan akhirnya terjadi obstruksi aliran udara. Brontitis ada 2, yakni brontis akut dan bronkitis kronis.

Bronkitis akut terjadi biasanya diikuti dengan demam dan flu, sedangkan bronkitis kronis terjadi karena bronkitis yang menjadi progesif. Bronkitis kronis dicirikan terjadinya batuk persisten yang memproduksi sputum (Phlegm) dan mukus, selama 3 bulan setiap tahun dan paling sedikit 2 tahun. Bronkitis kronis sangat berhubungan dengan merokok. Sekitar 40% perokok akan terjadi bronkitis kronis dengan didapati penurunan fungsi parunya.


FAKTA TERKAIT BRONKITIS KRONIS

Prinsip diagnosis tidak berdasarkan X-ray, tetapi berdasarkan klinis yakni didapatinya adanya produksi sekret mukosa yang berlebihan. Tidak dapat didiagnosis dengan radiografi. Lebih dari setengannya X-ray nya normal. Terdapat penebalan dinding bronkus dan penonjolan batas paru (dirty Chest).

Bronkitis kronis dikarateristikkan dengan oksigen level yang rendah di darah (hipoksia), yang dapat memicu vasokontriksi dari pembuluh darah di sisi kanan jantung. Vasokontriksi pembuluh darah ini menyebabkan peningkatan tekanan, yakni terjadi hipertensi pulmonal, dimana apabila terjadi di gagal jantung kanan disebut dengan Cor Pulmonal.

Baca Juga:  Tiroiditis Hashimoto : Penyebab, Gejala dan Tatalaksana

Untuk mengkompensasi kekurangan oksigen didarah, sel darah merah jumlahnya ditingkatkan, dimana membuat darah menjadi lebih tebal dan beresiko terbentuknya clot (pembekuan darah). Kondisi ini disebut dengan polisitemia sekunder. Komplikasi dari bronkitis kronis adalah pneumothoraks dan respiratory Failure.


PATOFISIOLOGI

Bronkitis kronis dapat dipicu oleh berbagai faktor risiko seperti merokok, polusi udara, hiperaktifitas dari bronkus, infeksi saluran nafas berulang, defisiensi antitripsin alfa 1 dan lain sebagainya. Apabila hal ini terjadi maka ada beberapa hal yang dapat ditimbulkan, seperti :

  1. Pada bronkitis kronis terjadi hipertropi dan hiperplasia kelenjarmukosa bronkus, sehingga terjadi penyumbatan mukus di intraluminal. Akibatnya, terjadi obstruksi parsial pada saluran nafas, sehingga udara terperangkap di bronkus dan peribronkus.
  2. Pada bronkitis kronis, terjadi peradangan dan edema mukosa pada bronkus. Hal ini akan memicu terjadinya peningkatan vaskularisasi dan penebalan pada dinding bronkus dan peribronkus.
  3. Diketahui bahwa semakin lama peradangan semakin kronis sehingga terdapat sel-sel radang kronis di sekitar bronkus dan peribronkus.
  4. Apabila peradangan ini berlanjut dan tidak ditangani dengan baik, maka akan terjadi kronisitas menjadi emfisema, yaitu udara dalam paru sekamin banyak sehingga mendorong diafragma ke bawah. Akibatnya kapasitas paru akan menurun.

PERBEDAAN DIAGNOSIS BRONKITIS DAN EMFISEMA

No Pembeda Bronkitis Emfisema
1 Gejala Sesak nafas timbul setelah batuk produktif selama bertahun-tahun. Sesak nafas terlebih dahulu kemudian di ikuti dengan batuk kering tanpa sputum
2 Tubuh Obesitas underweight
3 Penampakan Cyanotik (biru) Kemerahan
4 Pemeriksaan fisik Dada normal

Redup jantung dan hepar jelas

Ekspirasi dan inspirasi yang berubah karena batuk

Dada mengembang

Reduk jantung dan jepar hilang karena overdistensi

Suara nafas lemah dan ekspirasi memanjang

Tidak ada suara nafas tambahan

5 Jantung Gagal jantung sebelah kanan sering terjadi dan menjadi penyebab kematian Gagal jantung kanan jarang, kematian disebabkan karena gagal nafas.
6 Darah Polisitemia sekunder, analisis gas darah PO2 rendah dan PCO2 tinggi Polisitemia jarang

Analisis gas darah PO2 normal/rendah, PCO2 rendah

7 EKG Hipertrofi ventrikel kanan dan P pulmonal Dapat didapati P Pulmonal
8 Uji fungsi Paru Spirometri : obstruksi jalan nafas yang reversibel sebagian

Kapasitas paru normal atau sedikit meninfkat

Kapasitas difusi normal

Obstruksi jalan nafas irreversibel

Kapasitas paru total meningkat

Kapasitas difusi menurun


GAMBARAN RADIOLOGIS

Pemeriksaan radiologis yang digunakan untuk bronkitis kronis adalah : foto thorax X-ray Postero Anterior (PA). Pada foto ini, dalam posisi erek (berdiri), maka akan didapatkan :

bronkitis kronis xray

  1. Gambaran corakan bronkovaskuler meningkat
  2. Gambaran trains line (seperti rel kereta, yang merupakan gambaran bronkus yang terpotong secara longitudinal)
  3. Gambaran Air Bronkogram meningkat, dimana merupakan gambaran bronkus yang terpotong secara transversal.
  4. Gambaran Infiltrat peribronkial positif, dimana diapatkan infiltrat disekitar bronkus
  5. Gambaran hiperlusensi bilateral, yang merupakan gambaran tanda-tanda emfisema.
  6. Gambaran diafragma cenderung letak rendah dan cenderung mendatar, beberapa kondisi, berada di bawah vertebra thorakal 10.
  7. Gambaran jantung tear drop, yakni menyebabkan sudut kostrophrenikus sinistra menjadi lancip.
  8. Spasium interkosta melebar, yakni paling mudah terlihat diantara Spasium interkosta X sampai XI.

Derajat Bronkitis Kronis Berdasarkan Radiologis

1.  Ringan : corakan paru meningkat dibagian basal
2. Sedang : corakan paru meningkat dibagian basal dan disertai emfisema, terkadang disertai bronkoektasis diperikardial dextra dan sinistra
3.  Berat : didapatkan emfisema, bronkoektasis dan disertai cor pulmonal sebagai komplikasinya.


REFERENSI :

American Lung Association Epidemiology and Statistics Unit Research and Health Education Division March 2013
Ghazali, Rusdy, 2008, Radiologi Diagnostik, Pustaka Cendikia Press : Yogyakarta
www.learnradiology.com , akses 11 Juni 2016, pukul 21.09 WIB

Baca Juga:  Tipe-tipe Reaksi Hipersensitivitas

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here