Gatal sela-sela jari : Skabies / Gudiken / Kudis

0
2075

Gatal sela-sela jari atau Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasi terhadap parasit/tungau Sarcoptei Scabei var, Hominis dan produknya.

Cara penularan Gatal sela-sela jari dalam bentuk larva atau sudah dibuahi:

  1. Kontak langsung (kulit dengan kulit), misal : berjabat tangan, tidur bersama dll.
  2. Kontak tidak langsung (melalui benda), misal : handuk, baju, sprei, bantal dll.

Sarcoptei scabei

berupa tungau kecil, berbentuk oval, punggung cembung dan bagian perut rata. Ukuran 240 x 200 mikron. Berwarna putih translusen.

Siklus Hidup Sarcoptei Scabei

Setelah kawin yang terjadi di atas kulit, jantan akan mati. Tungau betina yang dibuahi menggali terowongan didalam stratum korneum (lapisan kulit) dan meletakkan telurnya 40-50 butir disana. Telur menetas 3-5 hari menjadi larva lalu menjadi dewasa dalam 8-12 hari.

Penyebab kelainan kulit

selain dari scabies juga disebabkan oleh garukan penderita. Gatal disebabkan karena reaksi sensitisasi dari sekret dan ekskresi tungau. Digaruk menyebabkan erosi dan infeksi sekunder.

Gejala Klinis (4 cardinal sign) :

  1. Pruritus Noturna : gatal sering pada malam hari yang disebabkan aktivitas tungau lebih tunggi pada suhu lebih lembab dan panas.
  2. Hiposensitisasi : seluruh anggota komunitas, anggota keluarga terkena.
  3. Konikulus : ada terowongan berwarna putih keabu-abuan berkelok-kelok 1 cm, dan diujungnya ada papul dan vesikel (bintik). Sering di temukan di sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku luar, ketiak, pusar, pantat dll.
  4. Menemukan tungau :  ditemukan tungau 1 atau lebih baik dalam bentuk telur, larva dan dewasa.

Cara menemukan tungau (hanya boleh di Fasilitas Kesehatan) :

  1. Cari terowongan, ujung papul dan vesikel (bintik) congkel dengan jarum, letakkan di obyek glas dan lihat di mikroskop.
  2. Menyikat dengan sikat dan ditampung di atas kertas putih dan di amati di mikroskop.
  3. Biopsi irisan (irisan tipis), lalu dilihat di mikroskop
  4. Biopsi eksisional (di iris dan di angkat) dan diperiksa di mikroskip dengan pengecatan Hematoksilin eosin.
Baca Juga:  Liken simpleks kronis (LSK)

Prognosis :

Penyakit ini dapat diberantas dan memberi prognosis yang baik. Pengobatan teratur dan higenitas menjadi hal yang harus diperhatikan.

Pengobatan (Seluruh anggota komunitas atau anggota keluarga harus diobati semua).

Pilihan obat :

  1. Sulfur Presipitatum 4-20% krim atau salep. Digunakan lebih dari 3 hari saat mulai gejala (menghindari stadium telur), mengotori pakaian dan berbau.
  2. Emulsi Benzil-Benzoas 20-25%, diberikan setiap malam sekali selama 3 hari. Obat  sulit diperoleh, sering memberi iritasi dan kadang semakin gatal setelah dipakai
  3. Gama Benzena Heksa klorida (Gameksan) 1% krim atau losio. Efektif disemua stadium tungau, mudah digunakan dan jarang memberi iritasi. Tidak dianjurkan bagi anak < 6 tahun dan wanita hamil, karena toksik di saraf pusat. Pemberian sekali jika masih ada, ulangi 1 minggu kemudian.
  4. Krotamiton 10% krim/losio. Mempunyai efek antiskabies dan antigatal. Harus dijauhkan dari mata, mulut dan alat genital.
  5. Permetrin 5% krim, efektifitas sama dengan gameksan, dan lebih tidak toksik. Di oleskan sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh, diulangi seminggu kemudian. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah 2 bulan.

Pengobatan Praktisnya:

Di oles :

-Salep 2-4 (Asam salisilat 2% dan sulfur 4%),  dilakukan dioles setelah 3 hari terkena gejala muncul 3-4 x sehari. atau

-scabimite (Permetrin 5%) , dilakukan di oles sekali saja, di ulangi 1 minggu lagi bila masih blm sembuh, dihilangkan 10 jam kemudian.

Nasihat :

-Jangan di garuk, boleh diberikan bedak tabur (cooling effect), dialihkan rasa gatalnya (dibuat lupa)

-Apabila sakit berlanjut, segera berkonsultasi ke dr. Sp.KK.

Oleh: dr. Wiwid Santiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here