Vaginosis bakterial (Gejala, Penyebab dan Tatalaksana)

Bakterial vaginosis : Gejala, pemeriksaan dan Pengobatan

0
2462

Vaginosis bakterial adalah vaginitis tidak spesifik yang disebabkan oleh bakteri gardnerella vaginalis yang menyebabkan peradangan pada area vagina. Bakteri lain dapat menjadi penyebab seperti laktobasilus, prevotella, mycoplasma hominis dan lain-lain.  Gardnerella vaginalis adalah kuman anaerob fakultatif, gram positif/negative dan berbentuk batang.


Patofisiologi

Vaginosis bakterial (VB) diketahui sebagai vaginitis nonspesifik yang dinamai karena kuman penyebanya. VB sering menyebabkan vaginitis dan peradangan pada area ginekologis. Peningkatan sekret vagina, dan bau di vagina berkaitan perubahan flora normal oleh VB. Sekret vagina dicirikan sebagai tipis, keabu-abuan, homogeny dan lengket terhadap mukosa vagina.

Pada VB, flora normal vagina memicu peningkatan pH sekitar. Peningkatan pH ini hasil dari reduksi hydrogen peroksida yang dipengaruhi produksi laktobasilus. Laktobasilus adalah organisme yang membantu menjaga tetap asam pH vagina, dan menghambat tumbuhnya mikroorganisme melalui kolaborasi dengan hydrogen peroksida.

Gardnerella Vaginalis membentuk biofilm pada vagina. Biofilm ini sering resisten terhadap berbagai terapi dan tetap hidup terhadap hydrogen peroksida, asam laktat, dan antibiotic dosis tinggi.

Meskipun VB tidak tergolong penyakit menular seksual, tetapi aktifitas seksual sangat berkaitan dengan perkembangan infeksi ini. Diketahui bahwa, insidensi VB meningkat pada pasien dengan berhubungan seksual tidak sehat. Berhubungan seksual dengan partner beresiko juga meningkatkan risiko VB. VB juga meningkatkan risiko terserang penyakit infeksi HIV.


Etiologi dan Penyebab

Vaginosis bakterial adalah infeksi polimikrobio sinergik dengan penyebab paling sering adalah gardnerella vaginalis. Bakteri ini tidak motil, tidak memiliki flagella, tidak memiliki spora, merupakan bakteri anaerob fakultatif dan termasuk bakteri nonenkapsulated. Pada pemeriksaan mikroskipis, berupa batang gram variable (positif/negatif), terseringnya berbentuk batang gram negatif.

Banyak factor risiko yang berkaitan dengan berkembangnya VB seperti lingkungan lembab, mandi dengan busa, menggunakan sabun higenitas, berhubungan seksual dengan banyak pasangan, terlalu sering berhubungan seksual, adanya riwayat penyakit seksual dan menggunakan kontrasepsi IUD.

Baca Juga:  Infeksi Herpes Zoster : Plenting di Badan yang Panas dan Nyeri (Gejala sampai Pengobatan)

Teori ini muncul karena VB akan merusak flora normal. Beberapa teori lain menyatakan bahwa VB berkembang pada kontrasepsi hormonal baik hanya progestin saja maupun kombinasi estrogen dan progestin. Rekurensi VB akan membentuk kolonisasi bakteri pada cavum oris dan anus.


Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala dari vaginosis bakterial adalah:

  1. bau vaginal terutama setelah berhubungan seksual. Adanya sifat basa (alkali) ada semen sperma, yang melepaskan amin volatile ke sekret vagina membuat bau seperti ikan (amis).
  2. peningkatan sekret vagina ringan sampai sedang.
  3. iritasi vulva
  4. dysuria dan dyspareunia kadang muncul meskipun jarang terjadi.

Ciri khas vaginosis bakterial:

  1. sekret vagina homogeny, berwarna putih keabuandan tidak terlalu banyak, melekat pada dinding vagina, tidak ditemukan kemerahan(tidak ditemukan tanda radang), baunya amis terutama setelah berhubungan seksual.
  2. pH dan derajat keasaman relative basa (lebih dari 4,5)
  3. terdapat clue sel, yakni bakteri menempel pada tepi sel.
  4. pada pemeriksaan whif atau amine test, didapatkan hasil positif, bau amis apabila sekret ditetesi larutan KOH.

Faktor risiko penigkatan kejadian VB adalah menggunakan antibiotic berlebih, penurunan produksi estrogen, penggunaan kontrasepsi IUD, membersihkan vagina dan menyemprotnya dengan air berlebih, berhubungan seksual dengan pasangan yang beresiko atau memiliki penyakit menular seksual.

Pada pemeriksaan, didapatkan :

  1. sekret vagina keabu-abuan, tipis dan homogeny melekat pada mukosa vagina.
  2. sekret sering terkumpul pada fornix posterior dan dapat ditemukan busa, tetapi tidak sedominan pada trikomoniasis.
  3. labium mayor minor, introitus vagina, cervic dan sekret servik sering tampak normal.
  4. infeksi dapat disertai dengan infeksi kuman lain seperti niesseria ghonorea, clamidia trachomatis dan herpes simpleks virus.

Apa yang harus kita lakukan?

Sebagai pasien dan masyarakat, kita harus menjaga agar tidak terkena infeksi bakterial vaginosis. Tentu saja harus mengetahui patofisiologi, riwayat penyakit, dan berbagai factor risiko dari Vaginosis bakterial. BV tidak termasuk penyakit menular seksual, tetapi berhubungan seksual tidak sehat, sangat meningkatkan risiko terkena VB.

Baca Juga:  Herpes Genitalis

Pencegahan dapat dilakukan seperti:

  1. tidak menggunakan antibiotic berlebih
  2. mengurangi menggunakan sabun pencuci vagina
  3. tidak memakai alat kontrasepsi IUD
  4. berhubungan seksual dengan sehat dan pasangan yang halal (satu pasangan), tidak berganti pasangan.
Ringkasan Artikel
Vaginosis Bakterial
Judul Artikel
Vaginosis Bakterial
Deskripsi
1. sekret vagina homogeny, berwarna putih keabuandan tidak terlalu banyak, melekat pada dinding vagina, tidak ditemukan kemerahan(tidak ditemukan tanda radang), baunya amis terutama setelah berhubungan seksual. 2. pH dan derajat keasaman relative basa (lebih dari 4,5) 3. terdapat clue sel, yakni bakteri menempel pada tepi sel. 4. pada pemeriksaan whif atau amine test, didapatkan hasil positif, bau amis apabila sekret ditetesi larutan KOH
Author
Publisher Name
DokterMuslim
Publisher Logo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here