Tonsilitis Difteri (Diphtheria)

0
2350

DEFINISI

Tonsilitis difteri adalah peradangan di tonsil akibat bakteri coryne bacterium diphteriae. Bakteri ini termasuk gram positif. Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri ini akan menimbulkan manifestasi klinis sakit, tetapi tergantung titer kadar antitoksin seseorang.

Tonsilitis difteri sering ditemukan pada anak usia kurang dari 10 tahun dan paling banyak pada usia 2-5 tahun.


MANIFESTASI KLINIS

Gejala umum :

Demam subfebris
Nyeri kepala
Nafsu makan menurun
Badan lemah
Nadi melambat
Nyeri saat menelan

Gejala Lokal :

Tonsil terlihat tertutup bercak putih kotor makin lama makin meluas dengan membentuk membran
Membran dapat meluas ke palatum mole, uvula, nasofaring, laring trachea dan bronkus.
Dapat menyumbat saluran nafas
Membran ini sangat melekat dengan dasarnya, apabila di kelupas maka akan berdarah
Kelenjar imfe dapat membengkak bila infeksi terus-terusan
Pembengkakan kelenjar limfe disebut Bull Neck sign atau Burgermeesters hals.

Gejala akibat eksotoksin :

Miokarditis sampai dekompensatio kordis
Menyerang saraf kranial, menyebabkan kelumpuhkan otot palantum dan otot pernafasan
Albuminuria pada ginjal.

DIAGNOSIS

Diagnosis dari tonsilitis difteri adalah berdasarkan kondisi klinis dan pemeriksaan langsung dari bakteri yang di ambil di bawah membran dan ditemukan kuman corynebacterium diphteri.

Tanda seperti membran di tonsil, dan bull neck sign menjadi penguat diagnosis.


TATALAKSANA

  1. Antidifteri serum (ADS) diberikan tanpa menunggu hasil kultur dengan dosis 20.000-100.000 unit bergantung usia dan beratnya penyakit.
  2. Antibiotik penisilin atau eritromicin 25-50 mg perKgBB dibagi 3 dosis selama 14 hari.
  3. Steroid 1,2 mg perKgBB perhari.
  4. Antipiretik untuk simptomatis.
  5. Pasien harus diisolasi dan istirahat di tempat tidur selama 2-3 minggu.

KOMPLIKASI

Komplikasi yang sering timbul adalah membran menjalar ke laring dan menyebabkan obstruksi. Semakin muda, risiko tersumbat makin besar.
Miokarditis dapat mengakibatkan gagal jantung dan dekompensatio cordis.
Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata akomodasi, otot faring dan otot laring sering terjadi, sehingga menimbulkan suara parau dan kesulitan menelan.
Sering juga terjadi kelumpuhan otot pernafasan.
Albuminuria terjadi apabila ada komplikasi di ginjal.
Baca Juga:  Mastoiditis : Penyebab, Gejala dan Pengobatan

REFERENSI

Efiaty Arsyad, Nurbaiti Iskandar, Jenny Bashiruddin, Ratna Dwi. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 7. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada: Jakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here