Rhinitis Medikamentosa

0
2464

DEFINISI

Rhinitis medikamentosa adalah gangguan respon normal vasomotor akibat pemakaian vasokonstriktor topikal (tets hidung atau semprot hidung) dalam waktu lama sehingga menyebabkan sumbatan pada hidung yang menetap.


PATOFISIOLOGI

Mukosa hidung sangat tipis, emakaian topikal vasokonstriktor golongan simpatomimetik akan menyebabkan siklus nasi terganggu dan membaik apabila pemakaian obat tersebut di hentikan. Pemakaian lama akan menyebabkan fase dilatasi berulang (rebound dilatation) setelah vasonontstriksi sehingga menyebabkan gejala sumbatan.

Aktifitas vasokontriksi (congesti hidung) menghilang akibatĀ  aktivitas tonus simpatis. Hal ini memicu rebound congestion. Pemakaian topikal hidung dapat menyebabkan silia rusak, sel goblet berubah ukuran, membran basal menebal, pembuluh darah melebar, stroma edema, hipersekresi mukosa dan perubahan pH, lapisan mukosa tebal dan periosteum menebal.

Pemakaian topikal sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu dan bersifat isotonil dengan pH 6.3-6.5.


TANDA DAN GEJALA

Hidung tersumbat terus menerus dan berair
Edema dan hipertropi konka
Terdapat sekret yang berlebihan
Apabila diberi tampon adrenalin, edema konka tidak berkurang.

TATALAKSANA

  1. Hentikan pemakaian topikal vasokonstriktor baik itu obat tetes maupun semprot.
  2. Untuk mengetasai sumbatan berulang dapat diberikan steroid oral dosis tinggi short acting dengan dosis yang diturunkan bertahap (Tappering).
  3. Tappering nya 5 mg/hari. Misal hari pertama 40 mg, hari kedua 35 mg, hari ketiga 30 mg dan seterusnya.
  4. Topikal steroid dapat diberikan minimal 2 minggu untuk mengembalikan proses fsiologi mukosa hidung
  5. Berikan obat decongestan oral (pseudoefedrin).
  6. Dalam waktu 3 minggu gejala tidak membaik, rujuk ke Sp.THT-KL

REFERENSI

Efiaty Arsyad, Nurbaiti Iskandar, Jenny Bashiruddin, Ratna Dwi. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi 7. Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada: Jakarta

Baca Juga:  Trichiasis, Distichiasis, Entropion dan Ekstropion : Anomali Posisi Bulu Mata dan Palpebra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here