Leptospirosis (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

0
2471

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan leptospira yang ditandai dengan ikterus, perdarahan, anemia, Penurunan Kesadaran, demam kontinus dan azotemia dengan gambaran klinis berupa gangguan renal hepar dan disfungsi vaskular.

Nama lainnya adalah Weil disease, field fever, cabe cutter fever, dan swamp fever. Indonesia merupakan negara dengan insiden di leptospirosis tinggi. Indonesia menempati peringkat ketiga angka mortalitas leptospirosis. Insiden di meningkat terutama daerah yang banjir seperti sumatra, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Nusa tenggara barat.

Orang yg paling berisiko adalah petani, peternak, pekerja tambang, pekerja rumah potong hewan, tukang kayu dan dokter hewan.


Etiologi

Leptospirosis disebabkan oleh leptospira interrogan. Reservoir paling sering adalah tikus dan anjing. Tetapi dapat pula dari babi dan sapi.


Patofisiologi

Perjalanan infeksi diawali dengan kontak kulit atau lendir manusia antara luka dengan air, tanah atau lumpur yang terinfeksi kuman leptospira. seseorang yang minum air terkontaminasi juga dapat menyebabkan masuknya kuman leptospira. Kemudian kuman akan masuk dan menyebar ke organ dan jaringan melalui darah.

Setelah itu kuman akan multiplikasi dan terdeteksi dalam darah dan cairan serebrospinal. Vaskulitis dapat terjadi dan menyebabkan kebocoran plasma. Vaskulitis inilah yang menyebabkan berbagai manifestasi klinis pada leptospira terutama menyerNg ginjal dan hati. Kerusakan pada organ spesifik diantaranya :

Ginjal : nefritis intertisial, tubular nekrosis akut dan gagal ginjal.
Jantung : inflamasi dan edema intertisial endokardium dann myokardium.
Mata : masuk ke kamera oculi interior selama fase leptospiremia dan menyebabkan uveitis.
Saraf pusat : ditemukan di cairan serebrospinal dan menyebabkan meningitis.
Hati : nekrosis sentrilobuler lokal, proliferasi sel kuffer, kolestasis.
Otot skelet : nekrosis, vakuolisasi, nyeri otot.
Pembuluh darah : vaskulitis.

Pada dasarnya imunitas tubuh akan melawan kuman ini tetapi pada mata, ginjal dan otak kuman dapat bertahan beberapa Minggu hingga beberapa bulan. Di ginjal kuman menghasilkan endotoksin yang masuk ke urin sedangkan di mata, kuman tinggal di Aquos humor dan menyebabkan uveitis kronik.

Baca Juga:  Jenis Pneumonia : Klasifikasi dan Penjelasan

Manifestasi klinis

Penyakit ini mempunyai masa inkubasi 7-14 hari dengan perjalanan terdapat 3 fae, pertama fase leptospiremia, kedua fase imum ketiga fase resolusi.

1. Fase leptospiremia (4-9hari)
Pada fase ini ditemukan di darah dengan gejala demam mendadak, menggigil, nyeri kepala terutama daerah frontal, disertai nyeri otot di m. Gastrocnemius, hiperestisia kulit dan terdapat gejala penyerta seperti mual, muntah, diare dan penurunan kesadaran.

Saat di lakukan pemeriksaan fisik, maka akan didapatkan bradikardia relatif dan ikterus serta injeksi konjunctiva dan fotophobia selama hari ke 3-4. Ruam seringkali ditemukan dan juga di temukan splenomegali, hepatomegali dan limfadenopati.

2. Fase imun
Setelah demam 7 hari biasanya akan ada fase bebas demam selama 1-3 hari sebelum akhirnya Demam kembali. Fase imun di dirikan dengan angka antibodi meningkat (titernya naik) dan demam menggigil tinggi dengan suhu 40oC. Gejala tersebut juga dibarengi dengan, badan lemah, nyeri leher, perut, otot kaki, kerusakan ginjal, hati, uremia, ikterus, menggigil, perdarahan (epistaksis, injeksi konjunctiva, perdarahan gusi). Fase ini dikatakan dapat terjadi meningitis.

3. Weil disease (leptospirosis berat)
Di tandai dengan ikterus, disfungsi ginjal dan diastesis hemoragik. Setelah 4-9 hari gejala tersebut muncul dimana ikterus terlihat jelas, hepatomegali, nyeri kuadran kanan atas dan splenomegali. Muncul gejala gagal ginjal seperti nekrosis tubuler akut, oliguria dan anuria. Juga muncul perdarahan yakni epistaksis, petechie, pura-pura, dan ekimosis. Pasien yang mengalami batuk, sesak nafas, nyeri dada dan sputum berdarah menandakan telah terjadi keterlibatan paru-paru.



Penegakan Diagnosis

Lakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Anamnesis : tanyakan riwayat risiko tinggi seperti berpergian ke rawa, ke hutan, sungai atau petani. Gejala demam tiba-tiba, nyeri kepala daerah frontal, mata merah, fotophobia dan keluhan gastrointestinal.

Baca Juga:  Anemia Defisiensi Besi (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

Pemeriksaan fisik : terdapat demam, bradikardia, nyeri tekan otot gastrocnemius, ruam kulit dan hepatomegali.

Pemeriksaan penunjang : darah rutin ditemukan leukositosis, neutrofilia dan peningkatan Eritrosit sedimentation rate. Urinalisis di temukan proteinuria, leukosituria,  dan sedimen sel toraks. Kimia darah si temukan bilirubin meningkat dan transaminaai meningkat. Apabila ada gejala gagal ginjal maka terjadi peningkatan BUN, ureum dan kreatinin. Kultur darah dan cairan serebrospinal di lakukan pada fase leptospiremia. Dapat pula di lakukan tes serologis seperti MAT, MSAT, PCR dan mikroskop ladang Padang gelap.


Tatalaksana

Kematian dapat terjadi apabila ada komplikasi faktor pemberat seperti agak ginjal atau perdarahan dan terlambatnya penanganan terhadap pasien.

Berikan obat simtomatis untuk mengatasi dehidrasi, hipotermia, perdarahan dan gagal ginjal. Lalu berikan antibiotik. Pilihannya sebagai berikut ini.

Leptospirosis ringan Doksisiklin 2x 100mg
Ampisilin 4 x 500-700mg
Amoksisilin 4x500mg
Leptospirosis sedang/berat Penisilin G 1,5 juta unit/6jam (IV)
Ampicilin 1 gram/6jam (IV)
Amoksisilin 1 gram /6jam (IV)
Kemoprofilaksis Doksisiklin

200 mg/minggu

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here