Kalazion – Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

2
2512

Kalazion adalah peradangan paling sering di kelopak mata yang secara perlahan membentuk nodul yang membesar, disertai obstruksi kelenjar sebasea. Kalazion ada yang superficial dan profunda, tergantung kelenjar mana yang tersumbat. Kalazion profunda disebabkan inflamasi pada kelenjar meibom, sedangkan inflamasi pada kelenjar Zeiz menyebabkan kalazion superficial.

Kalazion dapat terjadi rekurensi dan harus dievaluasi apakah terdapat tanda keganasan. Kadang diperlukan pemeriksaan patologi anatomi untuk menentukannya. Harus dibedakan juga dari hordeolum.


Patofisiologi

Kalazion terbentuk dari perombakan produksi lemak, enzim bakteri dan sekresi sisa sebasea karena proses inflamasi. Kalazion berbeda dari hordeolum. Kalazion di karateristikkan dengan masa di jaringan ikat, dan inflamasi dengan limfosit dan makrofag lipid leden, sedangkan hordeolum merupakan inflamasi akut pyogenic dengan nekrosis, pembentukan pustul, dan terdapat polimorfonuclear leukosit (PMN).

Kalazion lebih tidak nyeri dibanding hordeolum. Hordeolum nyeri dan kemerahan, sedangkan kalazion tidak nyeri dan keras nodulnya.


Etiologi

Penyebab dari kalazion adalah terjadinya sumbatan pada kelenjar akibat dari beberapa kondisi seperti : higenitas kelopak yang buruk, dermatitis seboroik, rosacea, blefaritis kronis, tingginya konsentrasi lipid darah, leishmaniasis, tuberkulosis, imunodefisiensi, infeksi virus, dan stress.


Manifestasi Klinis

Dari anamnesis pasien dengan kalazion akan merasakan benjolan tidak nyeri di kelopak mata sejak minggu sampai beberapa bulan yang lalu. Kalazion membuat gangguan penglihatan dan rasa tidak nyaman. Bila terdapat nyeri mata, gangguan penglihatan, demam, gerakan ekstraokular yang terhambat maka pikirkan diagnosis lain selain kalazion.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan nodul palpable di kelopak mata dengan ukuran biasanya 7-8 mm. Nodul berbatas tegas, tidak eritem, tidak fluktuatif dan tidak nyeri. Sering ditemukan pada kelopak atas. Temuan lain, kadang ditemukan injeksi konjuntiva palpebra, nodul periokular, acne, seboroik, atopi dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Resusitasi Jantung Paru Ibu Hamil

Perbedaan hordeolum dan kalazion

Indikator Definisi Etiologi Manifestasi Klinis
Kalazion Peradangan granulomatosa kronis non-infektif pada kelenjar meibom Proliferasi dan reaksi granulomatosa dari dinding kelenjar Benjolan lunak-keras, tidak nyeri
Hordeolum eksterna Peradangan supuratif akut kelenjar zeiz atau moll Infeksi staphylococcus aureus Benjolan merah, hangat, edema, nyeri.
Hordeolum Interna Peradangan supuratif akut kelenjar meibom Infeksi staphylococcal atau kalazion terinfeisk Benjolan merah, hangat, edema, nyeri. Lebih nyeri pada hordeolum interna dibanding hordeolum eksterna.

Diagnosis banding

Diagnosis banding kalazion adalah hordeolum, Benda asing, blefaritis, konjunctivitis, hemangioma, dacriocistitis dan lain sebagainya.


Pemeriksaan penunjang

Kalazion sering tidak membutuhkan pemeriksaan penunjang, dan hanya dengan manifestasi klinis kita dapat menentukan diagnosis. Kultur bakteri kadang ditemukan hasil negatif tetapi kadang ditemukan s. Aureus, staphylococcus albus dan propionibacterium acnes. Fine-needle biopsi digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan malignansi. Pemeriksaan histopatologi, dapat ditemukan touton-type gaint cell.


Tatalaksana

  1. Tatalaksana dari kalazion bersifat konservatif sesuai gejala yang dialami penderita. Tatalaksana konservatif meluputi kebersihan kelopak mata, kompres hangat. Kompres dapat dilakukan 12 menit sebanyak 2-4 kali setiap harinya. Baby shampoo dapat digunakan untuk membersihkan debris.
  2. Dapat diberikan injeksi steroid intralesi, triamsinolon 40 mg/ml sebanyak 0,1-0,2 ml.
  3. Antibiotik tidak dibutuhkan karena prinsipnya kalazion merupakan inflamasi steril. Tetapi bila terdapat inflamasi sekunder, dapat diberikan doksisiklin 100 mg/hari.
  4. Dapat juga diberikan tindakan pembedahan ekokleasi kalazion.

Referensi

Hosal BM, Zilelioglu G. 2003. Ocular complication of intralesional corticosteroid injection of a chalazionEur J Ophthalmol. Nov-Dec. 13(9-10):798-9

Sethuraman U, Kamat D. 2009. The red eye: evaluation and management. Clin Pediatr (Phila). Jul. 48(6):588-600.

Sharma R, Brunette DD. 2009. Ophthalmology. In: Marx, ed. Rosen’s Emergency Medicine. Vol 2. 7th ed.:Chap 69.

Baca Juga:  Neuritis Vestibularis : Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

Tim Penulis, 2014. Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. IDI: Jakarta.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here