Hiponatremia (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

2
3016

Hiponatremia adalah keadaan dimana kadar ion Na Plasma kurang dai 135 mEq/L dan dikatakan berat apabila kadarnya di bawah 120 mEq/L. Berdasarkan onsetnya, hiponatremi dibagi menjadi hiponatremia akut dan hiponatremia kronis.

Hiponatremi akut adalah apabila berlangsung kurang dari 48 jam dan terdapat gejala berat seperti kejan atau penurunan keadaran. Hiponatremia kronis apabila terjadinya lebih dari 48 jam dan terdapat gejala ringan seperti lemah, lesu dan lunglai.


Etiologi

Secara umum penyebab dari hiponatremi ada tiga, yakni hipovolumik, euvolumik dan hipervolumik. Hipovolumik dan hipervolumik dibagi lagi menjadi 2, yakni dalam kadar natrium urin tinggi (lebih dari 20 mmol/L) dan kadar natrium Urin rendah (kurang dari 10 mmol/L). Untuk lebih jelasnya, silahkan perhatikan table dibawah ini.

Hiponatremi Hipovolumik Na Urin tinggi (>20 mmol/L) Kelebihan diuretic

Defisiensi mineralkortikoid

Diuretik Osmosis

Hilangnya cairan dari ginjal

Ketonuria

Na Urin Rendah (<10mmol/L) Muntah-muntah

Luka Bakar

Trauma

Hilangnya cairan dari luar ginjal

Diare

Pankreatitis

Hiponatremi euvolumik Stress

Hipotiroidisme

Penggunaan obat-obatan

Polidipsia psikogenik

Defisiensi Glukokortikoid

Hiponatremi Hipervolumik Na Urin tinggi (>20 mmol/L) Gagal ginjal kronis dan akut
Na Urin Rendah (<10mmol/L) Sirosis hepatis

Gagal ginjal kronis

Sindrom nefrotik

Gagal Jantung


Manifestasi Klinis

Terdapat tanda dan gejala klinis dari hiponatremi. Pada hiponatremia ringan terdapat gejala : mual, muntah, letargis, disorientasi dan kebingungan. Pada Hiponatremia berat terdapat gejala : herniasi otak, koma, edema serebri, dan kematian.


Penegakkan Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis dari hiponatremia haruslah dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang seksama. Sering sekali hiponatremia merupakan iringan dari penyakit lain atau penyakit yang mendasarinya.

  1. Pada Anamnesis : Pada anamnesis ini haruslah terperinci. Tanyakan riwayat muntah, penggunaan obat diuretic/manitol, adanya penyakit seperti sirosis hepatic, gagal ginjal, sindrom nefrotik, hipotiroidism, gangguan kelenjar adrenal dan lainnya).

  2. Pada Pemeriksaan Fisik : periksa volume sirkulasi dan status cairan ekstraseluler.

  3. Pada Pemeriksaan Penunjang : periksa kadar Natrium serum, kadar natrium urin dan osmolaritas Plasma.


Tatalaksana

Pada Dasarnya tatalaksana hiponatremia ssecara umum meliputi koreksi kadar natrium serum dan mengatasi penyakit yang mendasari. Bagaimana cara koreksinya?

Jenis Cairan Kandungan Natrium (mEq/L)
NaCl 0,9% 154
NaCl 3% 513
Ringer Laktat 130
  1. Hiponatremi asimtomatik : koreksi Natrium dengan kecepatan kurang dari 0,5 mEq/L/jam dengan larutan Normal Saline Isotonil NaC 0,9% intravena.
  2. Hiponatremi akut : koreksi harus dilakukan cepat degan Natrium Hipertonik (NaCl 3%) intravena. Kadar Natrium serum dinaikkan sebanyak 5mEq/L dari kadar Natrium awal dalam waktu 1 jam, kemudian baru dinaikkan sebesar 1 mEq/L setiap 1 jam sampai kadar Natrium mencapai 130 mEq/L.
  3. Hiponatremi Kronis : Hiponatremia kronis yakni lebih dari 48 jam, dimana koreksinya dilakukan secara perlahan, dengan kecepatan koreksi 0,5-1 mEq/L/jam. Maksimal total koreksi adalah 10-12 mEq/24 jam dan <18mEq/48jam pertama. Ini dilakukan untuk menghindari sidrom demyelinasi smotik atau serebelopontin mielinolisis.

Bagamaimana Rumus Koreksinya?

Natrium = 0,5 x berat Badan (kg) x [target Natrium – Konsentrasi awal Natrium]

 Pada dasarnya koreksi dilakukan dengan larutan Na Hipertonik untuk hiponatrermia akut sedangkan larutan Na untuk hiponatremia kronis, lihat tabel  berikut ini :

Jenis Cairan Kandungan Natrium (mEq/L)
NaCl 0,9% 154
NaCl 3% 513
Ringer Laktat 130

Kadar Natrium serum setelah koreksi dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus :

Perubahan Na Serum = [kandungan Na cairan infus – Kadar Na Serum]/(jumlah cairan tubuh + 1)

Jumlah Cairan tubuh didapat dari (perhatikan Tabel dibawah ini):

Laki-laki Jumlah Cairan tubuh = Berat Badan (kg) x 0,6
Perempuan Jumlah Cairan tubuh = Berat Badan (kg) x 0,5
Laki-laki Usia Lanjut Jumlah Cairan tubuh = Berat Badan (kg) x 0,5
Perempuan Usia Lanjut Jumlah Cairan tubuh = Berat Badan (kg) x 0,45

Contoh :

satu Liter cairan NaCl 3% (513 mEq/L) jika diberikan pada perempuan 35 tahun, berat badan 50 kg dengan kadar Natrium serum 115 mEq/L akan meningkatkan Natrium serum sebesar :

Jumlah cairan tubuh = 50 x 0.5 = 10

Na Serum = [513 – 115] / (10+1) = 398/11 = 36.18 mEq

Apabila cairan infus yang digunakan untuk koresi mengandung ion Kalium (K), mka Kadar Na setelah koreksi dapat diperkirakan dengan rumus dibawah ini :

Perubahan Na Serum = (kandungan Natrium cairan Infus + Kandungan K Cairan Infus) – [kadar Na Serum/(jumlah cairan tubuh +1)]

 

Pada dasarnya ion kalium turut serta masuk kedalam intraseluler sehingga ion Natium akan keluar menuju ruang ekstraseluler. Pemberian cairan infus dengan ion kalium akan meningkatkan ion natrium lebih tinggi.

Pada hiponatremia hipervolumik, tatalaksana yang diberikan adalah degan pemberian restriksi cairan bebas seperti pemberian diuretic atau pemberian vasodilator serta infus koloid pada pasien sirosis hati.

Pada hiponatremia hipovolumik, tatalaksana pilihan utama adalah penggantian cairan dengan larutan normal salin.

Baca Juga:  Sinusitis - Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

2 KOMENTAR

    • Terimakasih atas saranya.
      Sebelumnya kami telah mencantumkan referensi, tapi karena kami belum menemukan cara agar sesuai dengan SEO dan tampilan website, sehingga referensi sementara kami tiadakan.
      Semoga kedepannya bisa segera support Referensi.
      Terimakasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here