Perbedaan Leukemia Akut dan Kronis

Perbedaan AML, ALL, CLL dan CML (Leukemia Akut dan Kronis)

0
2794

Perbedaan Leukemia akut dan kronis, dapat dilihat dari gejala yang dirasakan pasien. CML (Cronic Myeloid Leukemia) terjadi 63,2%, CLL (Cronic Limfositik Leukemia) terjadi 84,8%, ALL (Acute Limfositik Leukemia) terjadi 70,1% dan 91,2%nya dibawah usia 15 tahun, dan AML (Acute Myeloid Leukemia) terjadi 26 % dan 66,5%nya terjadi pada anak dibawah 15 tahun.

Leukemia adalah kanker darah. Penyakit ini terbentuk ketika sumsum tulang tidak berfungsi sebagaimana semestinya dan membentuk sel kanker. Sel darah kanker ini kemudian hidup  bersama sel darah normal. Sel ini akan mempengaruhi kemampuan tubuhuntuk melawan infeksi, mengendalikan perdarahan dan menyalurkan oksigen ke sel di tubuh.

Sel kanker ini juga dapat menginvasi ke lien, hepar dan organlain. Leukemia kronis berkembang cukup lambat, sedangkan leukemia akut berkembang cepat dan progresivitasnya sangat cepat terutama tanpa pengobatan.

Perbedaan Leukemia akut dan kronis berdasarkan Penyebab

Belum diketahui penyebab leukemia dan mengapa seseorang mempunyai leukemia kronisdan yang lain dengan leukemia akut. Faktor lingkungan dan genetic diduga terlibat.

Leukemia dapat terjadi ketika terjadi perubahan pada DNA dari sel. CML atau cronic myeloid leukemia sering berkaitan dengan mutasi genetic kromosom Philadelphia dan mutasi gen ini tidak diturunkan.

Beberapa penelitian menunjukkan, kombinasi faktor genetic dan lingkungan terlibat pada leukemia anak. Adanya paparan senyawa kimia dapat meningkatkan kejadian leukemia ini.

Bagaimana dengan Faktor Risikonya?

Faktor  risiko yang mungkin berbeda, tetapi keduanya mirip. Mempunyai faktor risiko ini, belum tentu dan belum pasti secara mutlak anda terkena leukemia. Faktor  risiko leukemia kronis:
-Usia diatas 60 tahun dan ras kaukasian
-terpapar benzene dan radiasi level tinggi

Faktor risiko Leukemia akut:
-Merokok dan terpapar radiasi tinggi
-sedang menjalani kemoterapi dan radioterapi untuk kanker yang lain.
-mempunyai abnormalitas genetik seperti sindrom down
-mempunyai saudara kandung yang mengalami ALL (Akut limfositik Leukemia)

Baca Juga:  Diabetes Ketoasidosis (DKA) : Gejala hingga Tatalaksana

Perbedaan Leukemia Akut dan Kronis Berdasarkan Gejala

  1. Leukemia Kronis

Gejala leukemia kronis lambat dan gejala awal sering ringan dan sulit dideteksi, sedangkan leukemia akut sangat cepat. Ini karena sel kanker dapat bermultiplikasi  sangat cepat. Leukemia kronis sering didiagnosis setelah pemeriksaan darah. Gejalanya sangat meragukan karena sulit dibedakan dengan gejala penyakit lain. Gejala Leukemia kronis meliputi:

-lemah lesu, disertainyeri tulang dan sendi dan nafas pendek
-Penurunan berat badan dan kehilangan nafsu makan
-Demam dan berkeringat malam hari
Anemia dan tanda infeksi
-perdarahan seperti mimisan
-pembesaran limfonodi yang tidak nyeri
-nyeri di perut bagiankiri atas, dimana lien berada.

  1. Leukemia Akut

Gejala dan tanda dari leukemia akut adalah :
-rendahnya jumlah sel darah putih dan tanda infeksi
-kelemahan lesuan yang tidak dapat hilang dengan istirahat.
-nafas pendek, kulit pucat, berkeringat malam hari dan sedikit demam
-nyeri tulang dan sendi
-ada bercak kemerahan di bawah kulit dan apabila terdapat luka, maka sulit sembuh

Bagaimana Pemeriksaan Leukemia Akut dan Kronis?

Semua tipe  leukemia diperiksa dengan pemeriksaan darah dan sumsum tulang. Pemeriksaan darah rutin akan menunjukkankadar : sel darah putih, sel leukemia, sel darah merah dan trombosit.

Pemeriksaan sumsum  tulang dan pemeriksaan lain akan memberikan informasi lain dan dapat mengkonfirmasi diagnosis. Dapat pula diperiksa dengan blood smeardibawah mikroskop untuk melihat bentuk sel. Pemeriksaan genetic dan kromosom juga dapat dilakukan, tetapi alatnya sangat terbatas di  Indonesia.

Perbedaan Leukemia akut dan Kronis berdasarkan Tatalaksana

Prinsipnya, pengobatan didasarkan derajat keparahan dan waktu mendiagnosis. Pemilihan pengobatan yang tepat sangat diperlukan. Berikut perbedaannya.

  1. Leukemia Kronis

Diagnosis leukemia ini tidak didasarkan gejala dan pembesaran limfonodi. Kemoterapi, kortikosteroid dan antibodi monoclonal dapat digunakan untuk mengendalikan kanker. Tranfusi darah dan tranfusi trombosit dapat mengobati penurunan kadar sel darah merahdan trombosit. Radioterapi dapat membantu  mengurangi ukuran dari lomfonodi.

Baca Juga:  Krisis Tiroid : Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

Jika kasusnya CML, dengan kromosom philadelpia, dapat diberikan TKI (Tirosin Kinase Inhibitor). TKI ini akan menghambat produksi protein kromosom philadelpia. Terapi stem sell untuk menggantikan sumsum tulang kanker dengan sumsum tulang sehat juga dapat dilakukan.

  1. Leukemia Akut

Seseorang dengan leukemia akut dapat diobati dengan diikuti diagnosis yang cepat karena progresifitasnya sangat cepat. Pengobatan meliputi kemoterapi, terapi target, dan stem cell, tergantung jenis leukemia yang diderita.

Pengobatan leukemia akut sangat infensif pada fase awal. Tujuan utamanya adalah membunuh sel leukemia. Hospitalisasi  diperlukan, karena pengobatan dapat memberikan efek samping.

Pemeriksaan rutin sel darah dan sumsum tulang dapat dilakukanuntuk menentukan seberapa efektifkah pengobatan yang telah dilakukan.

Ketika  darah kembali normal, leukemia akan remisi. Pemeriksaan lebih lanjut dilakukan jika sel kanker kembali menyerang.

Bagaimana dengan Pencegahannya?

Tidak ada deteksi awal leukemia yang tersedia sampai saat ini. Jika anda memiliki faktor risiko dan gejala, maka sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah. Para ahli belum menemukan cara pencegahannya. Maka dari itu menjadi proaktif dan peduli serta mengenali gejala dapat meningkatkan risiko terkena dan penyembuhan lebih optimal.

Oleh: dr. M. Wiwid Santiko
Yogyakarta, 18 Juni 2017

Ringkasan Artikel
Perbedaan Leukemia Akut dan Kronis
Judul Artikel
Perbedaan Leukemia Akut dan Kronis
Deskripsi
CML (Cronic Myeloid Leukemia) terjadi 63,2%, CLL (Cronic Limfositik Leukemia) terjadi 84,8%, ALL (Acute Limfositik Leukemia) terjadi 70,1% dan 91,2%nya dibawah usia 15 tahun, dan AML (Acute Myeloid Leukemia) terjadi 26 % dan 66,5%nya terjadi pada anak dibawah 15 tahun.
Author
Publisher Name
DokterMuslim
Publisher Logo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here