Konjunctivitis (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)

0
1245

Konjunctivitis adalah peradangan pada konjunctiva. Konjunctiva merupakan bagian terluar mata sehingga sangat mudah terpapar infeksi. Ciri khas dari infeksi konjunctivitis adalah diatasi vaskuler, infiltrasi seluler dan eksudasi.

Pada dasarnya konjunctivitis terjadi reaksi inflamasi akibat imunitas seseorang tidak mampu melawan kuman. Pada konjunctivitis terjadi peningkatan permeabilitas vaskuler, pembentukan eksudat dari sel-sel inflamasi, respon jaringan berupa deskuamasi dan terjadi proliferasi pada lapisan Basal epitel yang terjadi peningkatan sekresi musim oleh sel goblet


Klasifikasi konjunctivitis

Klasifikasi dapat dibagi berdasarkan infeksi dan noninfeksi. Pada konjunctivitis infeksi lebih disebabkan beberapa kuman seperti bakteri, virus parasit dan jamur. Untuk non infeksi disebabkan karena iritasi atau paparan persisten oleh suatu agen seperti alergen, mata kering, gangguan refkaksi mata dan toksik.

Berdasarkan awal mula kejadian, konjunctivitis dapat di bagi akut dan kronis. Konjunctivitis kronis terjadi apabila menetap lebih dari 4 Minggu dan biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus dan moraxella lacunata. Sedangkan konjunctivitis akut di bagi lagi menjadi akut Serosa (paling ringan), akut hemoragik (akibat enterovirus tipe 70 dan coxsacklevirus A24) dan akut folikuler (terjadinya bentukan folikel kecil berwarna abu-abu dengan diameter 1-2 mm yang di hubungkan dengan keratitis virus Herpes).


Tanda dan Gejala

Gejala umum yang dapat terjadi diantaranya mata merah, seperti ada benda asing yang mengganjal, rasa gatal, rasa terbakar, fotophobia. Sering di dapati pula kelopak mata sering menempel pada lagi hari karena peningkatan sekresi kotoran mata.

Pada beberapa kasus sering di temui nyeri pada mata dan blefarospasme setelah ada keterlibatan kornea pada kasus konjunctivitis. Kadang ada kelopak mata turun (pseudoptosis) dapat terjadi karena pembengkakan kelopak mata.

Konjunctivitis bakteria : ditemukan mata merah, sangat ditemukan kongesti, ditemukan kemosis, dapat terlihat atau tidak ditemukan perdarahan konjunctiva, papil, pseudomembran, demam dan keratitis berulang. Discharge ditemukan purulen dan mukopurulen. tidak ditemukan folikel dan panus. Kadang ditemukan nodul kelenjar limfa preaurikular.

Konjunctivitis viral : ditemukan kongesti dan nodul kelenjar limfa preaurikular, kadang ditemukan mata merah dan folikel. dapat ditemukan atau tidak terlihat kemosis, perdarahan subconjuntiva, pseudomembran, keratitis berulang dan demam. Discharge bersifat cair. Tidak ditemukan papil dan pannus.

Konjunctivitis alergi : ditemukan kongesti, kemosis dan papil. Kadang ditemukan mata merah, folikel. Bisa terjadi dan bisa tidak terjadi perdarahan konjunctiva. Discharge bersifat cair. Tidak ditemukan pseudomembran, nodul kelenjar limfa preaurikular, keratitis berulang dan demam. Pada konjunctivitis verbal ditemukan pannus dan coblestoon appearance.

Konjunctivitis clamidial : sekret bersifat mukopurulen, ditemukan kongesti, mata merah jarang, kadang ada pannus dan di temukan folikel.

Baca Juga:  Leptospirosis (Definisi, Gejala dan Tatalaksana)


Tatalaksana

Prinsipnya segera tegakkan diagnosis berdasarkan etiologi. Konjunctivitis bakteria difteria berikan antibiotik Spektrum luas seperti penisilin dan tetrasiklin.

Konj. bakteri gonococcal berikan antibiotik Spektrum luas gentamisin atau kloramfenikol. Untuk sistemik nya berikan seftriakson 1 gram intramuskular sampai hasil negatif selama 3 hari berturut-turut.

Konj. moraxella berikan antibiotik gentamisin dan kloramfenikol ditambah dengan 0.25-2.5% zinc sulfat.

Konj. clamidial berikan topikal eritromisin atau tetrasiklin selama 2-3 Minggu.

Konj. viral tidak ada terapi khusus. Berikan artificial tears, tetapi bila karena Herpes simpleks atau zooster berikan topikal asiklofir.

Konj. karena parasit segera konsultan ke dokter Spesialis Mata untuk dilakukan pembedahan penghilangan cacing pada konjunctiva.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here