Abruptio Plasenta (Solusio Plasenta)

0
2095

DEFINISI

Abruptio plasenta atau sering disebut solusio plasenta adalah menempelnya plasenta secara normal tidak berada di segmen bawah uterus dan kemudian terpisah dari dinding uterus sebelum deliveri dari fetus (sebelum melahirkan bayi). Terpisahnya ini dapat berupa parsial maupun komplit.


ETIOLOGI

Abruptio plasenta disebabkan adanya separasi dan terpisahnya plasenta dengan dinding uterus dan terpisahnya tersebut di liputi darah.

Perdarahan terbanyak berupa jelas dan eksternal. Pada situasi ini darah terbedah antara membran plasenta dan vagina. Jarang sekali jika perdarahan tersembunyi dan bersifat internal, dan menyisakan hematoma di uterus. Apabila terdapat hematoma, maka akan menambah tinggi dari fundus uteri pada penampakan klinis.

Ada pendapat, kalau darah abruptio plasenta lebih coklat atau lebih tua warnanya dibandingkan darah plasenta previa.


FAKTOR RISIKO

Faktor risiko dari abruptio plasenta adalah riwayat abruptio plasenta sebelumnya, hipertensi, trauma maternal dan penggunaan obat-obatan seperti cocain, bahkan riwayat terjadinya Prematur membran rupture.


DIAGNOSIS

Penegakkan diagnosis dari abruptio plasenta adalah berdasarkan adanya nyeri yang sangat berat di trimester ketiga kehamilan, dan perdarahan vagina dengan tinggi fundus uteri normal, atau implantasi plasenta tidak di segmen bawah uterus.

Manifestasi klinis yang ditemukan nyeri dan perdarahan pada trimester ketiga. Dan sekitar 1% kasus yang ada perdarahan terjadi pada usia kehamilan aterm (37-42 minggu).


KLASIFIKASI

Klasifikasi dapat dilihat dan ditentukan dari visualisasi USG, meskipun hematoma jarang ditemukan. Klasifikasi tersebut diantaranya :

  1. Abruptio ringan : perdarahan vagina ringan, dengan tidak terdapat kelainan pada janin. Nyeri dapat dirasakan dan terdapat fase relaksasi yang tidak sempurna antara kontraksi uterus.
  2. Abruptio Sedang : ditandai dengan nyeri uterus dan perdarahan vagina sedang dan gradual. Terdapat separasi plasenta dan dinding vagina sebesar 25-50%. Monitoring fetus, terjadi tachikardia, penurunan variabilitas, dan deselerase lambat ringan.
  3. Abruptio berat : ditandai dengan nyeri seperti teriris pisau di uterus, dan terjadi separasi plasenta dan dinding uterus lebih dari 50%. Perdarahan sangat banyak. Monitoring fetus menunjukkan late deselerasi bayi berat, fetus bradycardia, bahkan meninggal. DIC sering ditemukan.
Baca Juga:  Kehamilan Ektopik : Gejala hingga Tatalaksana

abruptio-plasenta


TATALAKSANA

Manajemen yang dilakukan untuk menangani abruptio plasenta adalah :

  1. Dilakukan SC emergensi : apabila ditemukan maternal atau fetal jeopardy.
  2. Dilakukan vaginal delivery : apabila perdarahan berat, tetapi dapat dikendalikan, atau kehamilan sudah usia lebih dari 36 minggu. Lakukan amniotomy dan induksi persalinan. Tempatkan alat untuk memonitor denyut jantung janin, bentuk dan kontraksi uterus. Hindari SC apabila fetus sudah meninggal.
  3. Conservative hospital observation : apabila maternal dan fetus stabil dan belum aterm, perdarahan minimal, konstraksi minimal. Konfirmasi letak implantasi plasenta dengan sonogram, dan ganti darah yang hilang dengan kristaloid dan transfusi darah bila diperlukan.

KOMPLIKASI

Komplikasi dari abruotio pasenta adalah syok hemmorhagic, dengan acute tubular nekrosis dari profound hipertension. DIC dapat ditemukan dari pelepasan tromboplasti ke sirkulasi sistemik dari plasenta yang terganggu. Couvelaire uterus menunjukkan adanya ekstravasasi darah antara serabut myometrium, seperti mengabur di permukaan serosa.


REFERENSI

Eimar, PS. Et Al. 2005. Kaplan Medicine USMLE Step 2 CK, Lecture Note Obstetrics and Gynecology. 2005-2006 edition. Kaplan Inc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here