Laringomalasia : Gejala, Penyebab hingga Pengobatan

Laryngomalacia

0
532

Laringomalasia adalah kondisi yang sering terjadi pada bayi muda, dimana terdapat kelainan pada jaringan di atas plika vokalis terutama di jaringan lunak. Perlunakan ini menyebabkan melipat ke jalur nafas terutama ketika bernafas. Akibatnya memicu sumbatan pada saluran nafas, memicu nafas serak dan berbunyi, terutama ketika bayi tengkurap.

Plika fokalis adalah pasangan plika di laring, yang berfungsi menciptakan suara atau kotak suara. Laring mengalirkan udara ke paru-paru dan membantu membentuk suara. Laring terkandung epiglotis yang bekerja mencegah masuknya cairan dan makanan ke paru-paru.

Laringomalasia adalah kelainan kongenital, yang artinya terkadang bayi terlahir dengan kondisi ini dan banyak yang tidak mempunyai kelainan ini. Sekitar 90% kelainan ini dapat sembuh tanpa pengobatan, tetapi pada beberapa anak, membutuhkan obat medikamentosa atau tindakan pembedahan.

Penyebab Laringomalasia

Penyebab pastinya belum diketahui. Kondisi ini karena abnormalitas perkembangan kartilago laring atau bagian lain dari plika vokalis yang mungkinmenghasilkan kondisi neurologis terhadap syaraf plika vokalis. Jika GERD muncul, maka suara serak nafas dapat memburuk. Penyakit ini dapat diturunkan, meskipun masih butuh penelitian lebih lanjut.

Penyakit ini berhubungan dengan kondisi seperti disgenesis gonad, dan sindrom costello. Anggota keluarga yang mempunyai sindrom ini, dapat mempunyai laringomalacia sehingga faktor risiko riwayat keluarga harus digali.

Gejala Laringomalasia

Gejala utaman dari kelainan ini adalah nafas yang serak, yang disebut juga dengan stridor. Suara pitchi tinggi terdengar ketika anak menghirup nafas. Untuk anak yang lahir dengna kelainan ini, stridor dapat terdengar ketika dia lahir. Rata-rata, kondisi pertama kali muncul ketika bayi usia 2 minggu. Masalah dapat memberat ketika anak menangis.

Nafas serak dapat membesar pada beberapa bulan pertama setelah lahir. Bayi dengan kelainan ini mungkin terdapat retraksi atau tertariknya dada ketika inspirasi. Sering juga disertai dengan GERD (Gastroesofageal Refluks Disease). GERD dapat mengenai semua orang pada segala usia, terjadi ketika asam lambung naik dari lambung ke esofagus menyebabkan nyeri. Rasa terbakar, sensasi iritasi memicu nyeri terbakar pada epigastrik. GERD mungkin menyebabkan anak regurgitasi dan muntah sehingga berat badan tidak naik-naik.

Baca Juga:  Laringotrakeobronkitis (Croup) : Batuk Rejan

Gejala lain dari laringomalasia diantaranya:

  • Kesulitan menyusui dan makan
  • Berat badan tidak naik bahkan terjadi penurunan berat badan
  • Tersedak ketika menelan
  • Aspirasi yakni masuknya makanan atau minuman ke paru-paru.
  • Berhenti bernafas, disebut dengan apnea
  • Cyanosis atau kulit membiru karena darah kekurangan oksigen.

Jika terdapat tanda cyanosis atau anak berhenti bernafas lebih dari 10 detik, bawa segera ke ruma sakit. Hal ini membutuhkan pertoongan segera.

Pemeriksaan Laringomalasia

Identifikasi gejala seperti stridor dapat memudahkan diagnosis. Pada kasus ringan, pemeriksaan fisik untuk stridor cukup. Pemeriksaan primer penyakit ini disebut dengan nasofaringolaringoskopi (NPL). NPL ini menggunakan scope sangat tipis dengan kamera kecil. Scope dimasukkan melalui nostril anak ke tenggorokan. Dokter dapat melihat struktur dari laring.

Jika anak anda mempunyai kelainan ini, pemeriksaan sinar X dada dan leher dan pemeriksaan lain dengan scope yakni flouroscopy dilakukan. Dapat juga dilakukan FEES atau fungsinal endoskopi evaluation of swallow terutama jika terdapat gangguan aspirasi.

Penyakit ini dapat menjadi ringan, sedang dan berat. Sekitar 99% kebanyakan ringan hingga sedang. Derajat ringan meliputi nafas serak, tetapi tidak ada masalah lain biasanya menghilang setelah 18 bulan. Derajat sedang berarti terdapat masalah menelan, menyusui dan regurgitasi, disertai GERD dan retraksi dada. Pada derajat berat, meliputi masalah mnelan, apnea dan cyanosis.

Pengobatan Laringomalasia

Kebanyakan anak tidak membutuhkan pengobatan sebelum tahun kedua, hal ini berdasarkan rekomendasi Children Hospital of Philadelpia. Ketika terdapat gejala gangguan menelan, berat badan tidak naik dan cyanosis maka tindakan pembedahan diperlukan. Tindakan bedah yang dilakukan berupa bronkoskopi dan laringoskopi direct. Hal ini dengan memasukkan scope ke laring dan trakhea.

Tahap selanjutnya yakni dengan supraglottoplasty dimana menggunakan gunting atau laser. Tindakan bedah dengan memecah cartilago laring dan epiglotis, jaringan di tenggorokan yang menutupi ketika makan. Operasi juga mengurangi jumlah jaringan di atas plika vokalis. Jika GERD terjadi, obat pengendali asam lambung diberikan.

Baca Juga:  Sindrom Wiliam : Gejala, Penyebab dan Pengobatan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here