Efek samping Imunisasi Difteri : Tinjauan Medis Terbaru

0
2848

Efek samping imunisasi difteri dan tetanus sering terjadi dimana vaksin ini akan membantu mencegah terkena penyakit difteri dan tetanus, pada usia 6 minggu hingga 6 tahun sebelum anak mencapai 7 tahun. Vaksin tersedia dalam bentuk generik.

Efek samping yang sering terjadi diantaranya: kemerahan, nyeri, sakit, pembengkakan, dan ada penonjolan kecil setelah injeksi diberikan. Kadang disertai dengan demam ringan (tidak tinggi), menangis, nyeri sendi dan nyeri seluruh tubuh seperti pegal-pegal dan “njarem”, kekakuan pada ekstremitas tangan atau kaki.

Efek samping Imunisasi Difteri

  1. Reaksi sekitar suntikan seperti kemerahan, nyeri, bentol, pembengkakan dan sakit njarem.
  2. Demam ringan
  3. Anak menangis
  4. Nyeri sendi
  5. Nyeri otot dan sendi
  6. Penurunan kesadarah
  7. Mual dan muntah

Untuk anak 6 minggu hingga 12 bulan, serial primer 4 dosis imunisasi diberikan sebanyak 3 kali 0.5 ml intra muskuler terutama pada usia 4-8 minggu. Dosis juga dapat diberikan 6-12 bulan setelah injeksi kedua. Vaksi difteri dan tetanus dapat bereaksi dengan obat kortikosteroid (obat psoriasis, reumatoid artritis, dan penyakit autoimun lainnya). Hubungi dokter terdekat anda dan berikan suplementasi pada anak setelah menerima vaksin bila ada gejala berat.

Anak harus tidak boleh diberikan vaksin booster setelah ada reaksi alergi setelah injeksi pertama imunisasi difteri. Tanda dari reaksi alregi adalah : hives, sesak nafas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah dan tenggorokan.

Kapan harus Ke Dokter?

  1. Penurunan kesadaran, dan pingsan berat
  2. Muntah dan sakit kepala berat
  3. Menangis berjam-jam tidak berhenti dan iritabilitas
  4. Gejala kejang
  5. Demam tinggi

Kadang juga disertai gejala lain, seperti: kemerahan, nyeri area suntikan, bentol, pembengkakan, demam ringan, muntah ringan, nyeri sendi, dan anak menangis.

Jika bapak ibu menemukan gejala itu setelah imunisasi, maka segera bawa putra putri bapak ke dokte terdekat. Untuk di periksa dan diberikan pengobatan yang sesuai. Apabila ada gejala yang khas, unik, dan tidak biasa, maka harap laporkan kepada dinas kesehatan setempat untuk dilakukan evaluasi terhadap proses vaksinasi/imunisasi.

Baca Juga:  Sindrom Jacobsen : Penyakit Kongenital Autisme dan ADHD [Lengkap]

Oleh: dr. Wiwid Santiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here