Bronkiolitis : Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

[nextpage title=”Definisi dan Gejala” ]

Bronkiolitis adalah wheezing (mengi) pertama dengan infeksi virus pada saluran respirasi. Ciri khas dari bronkiolitis akut adalah inflamasi pada saluran respirasi dengan obstruksi airway yang dihasilkan dari pembengkakan dari bronkiolus kecil, dan menyebabkan aliran udara ekspirasi tidak adekuat.

Bacaan Lainnya

Pada kasus berat bronkiolitis terjadi pada infamt, dimana airway menyempit dan imunitas masih imatur. Bronkiolitis sangat berpotensial mengancam jiwa. RSV adalah penyebab utama, diikuti frekuensi human metapneumovirus, parainfluenza virus, influenza virus, adenovirus, rhinovirus dan lebih jarang M. pneumonie.

Bronchitis viral mudah menular dan menyebar dengan kontak secret respirasi yang telah terinfeksi. Meskipun batuk menghasilkan aerosol, penularan melalui tangan yang terkontaminasi secret, juga sering menjadi transmisi atau agen penularan.


Epidemiologi

Bronkiolitis sering membuat anak dirawat dirumah sakit. Sekitar 50% anak, mengalami bronkiolitis pada usia 2 tahun kehidupan dengan puncaknya usia 2-6 bulan. Insidensi menurun drastis antara usia 1-5 tahun, setelah bronkiolitis tidak terjadi. Sekitar 10% anak sehat dengan bronkiolitis dan wheezing (mengi) membutuhkan hospitalisasi.

Anak mendapat infeksi setelah eksprosure dan terpapar anggota keluarga, yang menderita gejala infeksi saluran pernafasan atas. Di US, kejadian tertinggi pada musimdingin, dari bulan desember sampai maret. Anak laki-laki lebih sering terkena disbanding anak perempuan dengan rasio 1,5 dibanding 1.


Manifestasi Klinis

  1. Bronkiolitis disebabkan karena RSV mempunyai masa inkubasi 4-6 hari. Bronkiolitis klasik muncul secara progresif, mirip dengan common cold pada fase akut dengan gejala Batuk, coryza, dan rhinorea.
  2. Ini berlangsung 3-7 hari dengan nafas bersuara keras (kempresek), dan wheezing (mengi) yang terdengar jelas.
  3. Biasaya disertai demam grade rendah, dengan iritabilitas disertai sulit bernafas dan terlihat usaha nafas yang berat. Tanda apnea juga dapat ditemukan.
  4. Pemeriksaan fisik ditemukan obstruksi bronkeolus, fase ekspirasi memanjang, retraksi intercostal dengan kosta bawah masuk kedalam, retraksi suprasternal, dan air trapping denga hiperekspansi paru.
  5. Selama fase wheezing, perkusi dada didapatkan hipersonor, tetapi auskultasi biasanya ditemukan wheezing, dan crakel tergantung siklus bernafasnya.
  6. Pada kasus yang berat dapat ditemukan grunting (suara seperti mendengkur) dan cyanosis.
Baca Juga:  Sinusitis - Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

[/nextpage]


[nextpage title=”Pemeriksaan Penunjang” ]

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium rutin, mempunyai spesifitas yang kurang untuk mendiagnosis bronkiolitis dan tidak dibutuhkan untuk mengkonfirmasi diagnosis. Leukositosis ringan ( 12.000-16.000/uL) sering muncul tetapi tidak spesifik.

Pada kasus berat, disarankan pemeriksaan analisis pertukaran udara. Pemeriksaan visual terkait oksigenasi, dapat ditunjang dengan pemeriksaan analisis gas darah. Pulse oksimetri digunakan untuk memonitor saturasi oksigen.

Pemeriksaan visual dan pemantauan kardiorespiratori pada anak dibutuhkan karena gagal nafas dapat terjadi pada anak dengan kondisi sangat lemah, meskipun analisis gas darahnya masih bagus (dapat mengkompensasi) dan tidak terdapat tanda bahaya.

Tes antigen (biasanya imunoflouresen dan ELISA) dari secret nasofaring untuk RSV, virus parainfluenza, virus influenza danadenovirus sangat sensitive untuk mengkonfirmasi infeksi. Diagnosis rapid viral juga dilakukan dengan PCR dan membantu untuk anak dengan berbagai infeksi.

Radiografi dada, menunjukkan tanda hiperekspansi paru, termasuk peningkatan radiolusensi dan flattened atau pendataran atau penurunan diafragma. Lapang paru terlihat normal, dan dapat menunjukkan peningkatan densitas, dimana menunjukkan viral pneumonia dan atelectasis local.


Diferensial Diagnosis

Diferensial diagnosis dari bronkiolitis adalah untuk membedakan penuakit lain yang gejalanya juga wheezing. Ini mungkin sulit dibedakan pada asma pada pemeriksaan fisik, tetapi usia muda, ada demam dan tidak ada riwayat asma keluarga adalah kuncinya.

Bronkiolitis terjadi pada lima tahun usia, dan disertai demam, sedangkan asma biasanya terjad pada anak lebih tua dan disertai episode wheezing, dan tidak ada demam, serta ada pemicu serangan asma.

Wheezing juga terdapat pada kasus lain seperti benda asing di saluran nadas, congenital airway obstruction, sistik fibrosis, eksaserbasi bronkopulmonal dysplasia, pneumonia viral dan bacterial. Asma kardiogenik dengan bronkiolitis, adalah wheezing disertai kongesti paru sekunder dari sisi kiri jantung.

Baca Juga:  Hordeolum – Gejala, Penyebab dan Tatalaksana

Wheezing berkaitan dengan GERD (gastroesofageal refluks disease) dapat terjadi dan biasanya disertai emesis. Sistik fibrosis akan menjadi pertumbuhan terganggu dan diare kronis. Adanya area fokal pada radiologi thoraks menandakan benda asing.

[/nextpage]


[nextpage title=”Treatment” ]

Tatalaksana

  1. Tatalaksana dari bronkiolitis terdiri dari suportif terapi meliputi monitoring, control demam, hidrasi yang baik, suction saluran nafas atas, dan oksigenasi.
  2. Oksigenasi melalui nasal kanul, intbasi atau ventilator untuk mencagah apnea dan gagal nafas.
  3. Indikasi dirawat dirumah sakit meliputi usia muda (< 6bulan), ada distress respirasi sedang (Respirasi rate tidur > 50-60 x/menit), hipoksemia (PO2 <60 mmHg, atau saturasi oksigen < 92%), apnea, iritabilitas, sulit makan, dan tidak adanya perawatan yang baik dirumah.
  4. Anak dengan penyakit paru kronis, seperti bronkopneumoni dysplasia, hemodinamik cyanosis, acyanosis congenital heart disease, neuromuscular weakness, dan imunodefisiensi sangat berpotensi meninggal. Hospitalisasi dari anak resiko tinggi dengan bronkiolitis sangat diperhatikan.
  5. Bronkodilator dapat memperbaiki wheezing dan distress respirasi pada anak.

Komplikasi

Kebanyakan anak yang dirawat dirumah sakit menunjukkan perbaikan klinis selama 2-5 hari dengan suportif terapi. Wheezing bisa disertai tachypnea dan hipoksia dan berkembang menjadi gagal nafas. Apnea adalah komplikasi yang sangat membutuhkan perhatian karena mengancam jiwa.


Prognosis

Kebanyakan kasus bronkiolitis sembuh sempurna meskipun abnormalitas minor dari fungsi paru, dan hiperaktifitas bronkial terjadi untuk beberapa tahun. Rekurensi sering terjadi, tetapi biasanya ringan dan dapat diobati pada epsode pertama.

Insidensi asma lebih tinggi untuk dirawat di rumah sakit disbanding bronkiolitis. Ada sektiar 1-2% mortalitas tinggi pada anak terutama dengan penyakit kardiovaskuler dan gangguan imunologi.


Pencegahan

Injeksi setiap bulan palivizumab, sebuah RSV spesifik monoclonal antibody, diinisiasi sebelum onset dari infeksi RSV. Palivizumab di indikasikan untuk beberapa anak dengan bronkopulmorany dysplasia, bayi lahir berat badan rendah, dan bayi dengan hemodinamik cyanosis, serta acyanosis congenital heart disease.

Baca Juga:  Sindrom Jacobsen : Penyakit Kongenital Autisme dan ADHD [Lengkap]

[/nextpage]

[nextpage title=”Referensi” ]

Referensi

Kliegman RM, Marcdante KJ, Jenson, HB, 2006. Nelson : Essentials of Pediatrics, 5th edition, International Edition, Elsevier Saunders, Philadelphia.

[/nextpage]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *