Asidosis Respiratori : Gejala, Kriteria dan Tatalaksana

0
1606

Asidosis respiratori adalah peningkatan primer tekanan parsial karbon dioksida (PCO2) dengan atau tanpa kompensasi peningkatan bikarbonat (HCO3-), dimana pH biasanya rendah atau turun mendekati normal. Penyebabnya penurunan frekuensi nafas, dan volume atau hipoventilasi, baik gangguan di sistem syaraf pusat, pulmonal, dan kondisi iatrogenik.

Asidosis respiratori ini dapat akut dan kronis. Bentuk kronis sering asimtomatik, sedangkan bentuk akut akan memburuk dengan gejala demam, kejang, bingung dan penurunan kesadaran. Tanda seperti tremor, menghentak-hentak (jerking myoklonus) dan asteriksis. Diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan analisis gas darah dan pengukuran elektrolit serum. Penyebab harus diobati, dan pemberian oksigen serta ventilasi mekanik sering diperlukan.

Asidosis respiratori adalah akumulasi karbon dioksida (hiperkapnia) karena penurunan frekuensi nafas dan vulume nafas (Hipoventilasi). Penyebabnya pertama, gangguan syaraf pengatur ritme pernafasan, dan kedua adanya gangguan transmisi neuromuskuler dan kelemahan otot. Ketiga, penyakit parenkim pulmo, obstruktif dan restriktif.

Hipoksia juga memicu hipoventilasi. Asidosis ini dapat akut dan kronik tergantung derajat kompensasi metaboliknya, CO2 inefisien sebagai buffer dan ketika sudah mencapai 3-5 haru, ginjal meningkatkan reabsorbsi HC3 secara signifikan.

Gejala Asidosis Respiratori

Gejala asidosis ini tergantung frekuensi dan derajat peingkatan PCO2. Karbon dioksida secara cepat berdifusi melewati BBB (Blood brain barrier). Ditandai dengan tingginya konsentrasi CO2, rendahnya pH di sistem syaraf pusat dan memicu hipoksemia.

Gejala akut meliputi : pusing, bingung, kejang kecemasan, penurunan kesadaran hingga stupor (narkosis CO2). Pada asidosis stabil dapat tertoleransi tetapi kadang ditemukan penuruan ingatan, gangguan tidur, mengantuk dan perubahan personaliti. Tanda gangguan postur, tremor, jerking, asteriksis dan papil edema sering juga ditemukan.

Pemeriksaan Asidosis Respiratori

Pemeriksaan analisis gas darah dan elektrolit beserta diagnosis klinis diperlukan. Mengenali asidosis dan adanya kompensasi renal diperlukan periksa gas darah dan elektrolit. Menghitung alveolar – arterial oksigen gradien (PO2 inspirasi – [PO2 arteri + 5/4 PCO2 arterial]) dapat membantu membedakan apakah dari pulmonal atau nonpulmonal. Normalnya gradien dapat mengeksklusi kemungkinan penyebab dari pulmonal.

Baca Juga:  Asidosis Metabolik : Gejala, Pemeriksaan dan Tatalaksana

Tatalaksana Asidosis Respiratori

Pengobatan berdasarkan ventilasi adekuat. Sedangkan pemberian natrium bikarbonat di kontraindikasikan. Tatalaksana dengan ventilasi baik intubasi endotrakheal maupun metode ininvasif, ventilasi tekanan positif.

Ventilasi positif dibutuhkan untuk mengkoreksi asidosis respiratori, meskipun hiperkapnia kronis secara umum harus dikoreksi lambat (dalam beberapa jam atau lebih), karena terlalu cepat penurunan PCO2 dapat menyebabkan alkalosis posthiperkamnia, dengan kompensasi hiperkarbonatemia. Peningkatan pH di sistem syaraf pusat dapat memicu kejang dan kematian. Kekurangan kalium dan klorida harus dikoreksi.

Natrium bikarbonat selalu dikontraindikasikan karena berpotensi terjadi asidosis paradoksikal di sistem syaraf pusat. Satu ensepsi dimana meningkatkan bronkospasme berat, dimana HCO3- meningkatkan responsivitas otot polos bronkus terhadap beta agonis.

RINGKASAN

  1. Asidosis respiratori meliputi penurunan frekuensi nafas dan volume nafas (hipoventilasi).
  2. Penyebab tersering adalah gagal nafas termasuk toksin, dan penyakit syaraf. Serta sumbatan udara seperti asma, COPD, apnu, dan edema saluran nafas.
  3. Mengetahui hipoventilasi kronis dengan adanya kompensasi metabolik, peningkatan HCO32 dan tanda klinis toleransi diperlukan.
  4. Mengobati penyebab dengan ventilasi adekuat baik dengan ET (Endotracheal tube) dan VPP (Ventilasi Positive Pressure).

Oleh: dr. Wiwid Santiko

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here