Penyakit Jantung Koroner Jadi Penyebab Kematian Pertama di Dunia

Kematian akibat penyakit jantung koroner masih menjadi penyakit yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Pemberitaan media tentang penyakit masih banyak mewarnai sepanjang tahun 2023 dan harus diwaspadai pada tahun 2024.

Ada banyak faktor yang menjadi penyebab penyakit ini menjadi salah satu penyebab kematian pertama di dunia, termasuk di Indonesia. Salah satunya adalah konsumsi rokok dan gaya hidup masyarakat yang tidak sehat.

Bacaan Lainnya

Faktor yang Menyebabkan Penyakit Jantung Koroner

Penyakit kronis ini terjadi ketika aliran darah tidak mengalir dengan lancar ke jantung akibat adanya gangguan pada arteri. Jika kondisi ini terjadi akan mempengaruhi arteri koroner pada permukaan jantung.

Angka kematian pada pasien tidak mengalami perubahan setiap tahunnya, oleh karena itu Anda harus tetap mewaspadainya di tahun 2024. Penyakit ini bisa saja terus meningkat karena beberapa faktor.

1. Rokok

Rokok menjadi penyebab tingginya pasien penyakit jantung koroner beberapa tahun terakhir. Apalagi jika Anda memiliki kebiasaan merokok selama bertahun-tahun dapat meningkatkan risiko terkena penyakit ini.

Rokok yang mengandung nikotin akan mengakibatkan pembuluh darah menyempit. Apalagi setiap Anda menghisap rokok sama saja sedang menghisap karbon monoksida. Jika karbon monoksida masuk ke dalam tubuh akan meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah.

2. Stress

Memiliki beban hidup yang cukup berat akan menimbulkan masalah pada psikis Anda. Stres berat juga akan meningkatkan seseorang terkena masalah kardiovaskular.

Perlu Anda ketahui, stres yang tinggi tidak hanya akan berdampak pada masalah mental seseorang saja tetapi juga terhadap kesehatan fisiknya. Seseorang bahkan bisa terkena serangan jantung dan menimbulkan kematian akibat tingkat stres terlalu tinggi.

Baca Juga:  Reumatoid Artritis – Definisi, Manifestasi Klinis dan Gejala Khas (Part.1 of 4)

Ketahui 4 Poin Penting Gejala Penyakit Jantung Koroner

Menjadi salah satu momok di tahun 2024, terkadang penyakit ini tidak menimbulkan gejala apapun di awal. Tetapi seiring berjalannya waktu, pembuluh darah akan menyempit akibat penumpukan lemak sehingga menimbulkan komplikasi serius.

Kebanyakan orang baru menyadari saat sudah terjadi komplikasi serius. Walaupun penyakit ini tidak memiliki gejala, Anda dapat mengenali beberapa indikator sebagai acuan untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

1.  Nyeri pada dada atau angina

Dada Anda terasa nyeri, ini adalah salah satu gejala yang paling sering dirasakan. Angina atau nyeri pada dada ini terjadi akibat berkurangnya suplai darah. Kondisi ini terjadi dengan ditandai rasa nyeri seperti tertekan di dada, kadang-kadang disertai dengan sensasi panas atau terbakar.

2. Napas terasa sesak

Napas terasa sesak juga menjadi salah satu indikator Anda terkena penyakit jantung koroner. Sesak napas biasanya akan terjadi akibat adanya gangguan saat memompa darah dan oksigen ke seluruh tubuh.

3. Keringat dingin

Sering muncul keringat dingin terutama di malam hari, gejala ini muncul akibat darah arteri mengalami penyumbatan. Sehingga jantung harus memompa darah lebih keras ke seluruh tubuh.

Keringat merupakan respon dari tubuh agar bisa mengurangi beban kerja jantung Anda. Keringat ini juga akan terus keluar walaupun Anda berada di ruangan yang sejuk.

4. Mual dan muntah

Seseorang yang mengidap jantung koroner juga biasanya akan merasakan mual dan muntah. Mual dan muntah terjadi akibat jantung tidak mampu menyuplai darah yang cukup.

Ketika suplai darah berkurang, jantung tidak mampu memompanya secara efisien. Sehingga aliran darah yang seharusnya dialirkan ke seluruh tubuh akan dialihkan untuk dialirkan untuk memenuhi kebutuhan organ lain salah satunya otak.

Baca Juga:  Alkalosis Respiratorik : Gejala hingga Pencegahan (Pasien)

Sehingga ketika aliran darah ke seluruh tubuh berkurang, akan membuat sistem pencernaan merasa kembung dan mengakibatkan mual hingga muntah.

Jika Anda merasakan beberapa indikator dari penyakit jantung koroner tersebut, lebih baik untuk segera memeriksanya ke dokter sebelum terjadi komplikasi lebih parah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *